Petaka di Negeri Bebas Senjata
- Truthnetmedia
Tewasnya Presiden John F Kennedy, Robert Kennedy dan Martin Luther King, membuat pengganti JFK, Lyndon B Johnson mengeluarkan aturan yang diberi nama Gun Control Act of 1968.
Aturan tersebut hingga saat ini menjadi acuan dasar kepemilikan senjata di AS. Salah satu pasal di dalamnya memuat tentang larangan menjual senjata ke narapidana, pengedar narkoba dan mereka yang menderita gangguan jiwa.
Peredaran senjata otomatis atau senapan mesin juga dibatasi oleh aturan Firearm Owners Protection Act of 1986. Dalam aturan ini, semua senjata otomatis yang dibuat pasca 19 Mei 1986 tidak boleh diperjualbelikan ke warga sipil.
Pada 1993, muncul aturan The Brady Handgun Violence Prevention Act yang mewajibkan pembeli senjata untuk diperiksa latar belakangnya oleh FBI. Hal ini dimaksudkan untuk mengetatkan perdagangan senjata di negara tersebut.
Bisa Dimodifikasi
Berbeda dengan AS, syarat warga sipil untuk bisa memiliki senjata di Inggris dan Jepang jauh lebih ketat. Inggris hanya memperbolehkan senjata dengan panjang laras 30 sentimeter atau lebih untuk diperjualbelikan.
Jenis senjata yang diperbolehkan juga terbatas. Model senapan serbu semi otomatis maupun otomatis dan pistol sama sekali tidak diperbolehkan dibeli warga sipil.
Bahkan, warga Jepang juga harus memiliki lisensi khusus hanya untuk memegang senjata. Memiliki pedang yang tajam dan dapat membahayakan orang lain juga tidak diperbolehkan.
Sementara di AS, masing-masing negara bagian memiliki aturan sendiri. Negara bagian Nevada membolehkan warganya untuk memiliki senjata tanpa izin khusus. Model senjata yang dimiliki juga tidak dibatasi.
Namun, untuk bisa memiliki senjata otomatis seperti M-16, AK-47 atau Styer membutuhkan biaya yang cukup banyak. Sebab, jenis senapan tersebut itu dibatasi jumlah peredarannya, karena masuk dalam kategori senjata otomatis. Harganya bisa mencapai puluhan ribu dolar AS per pucuk.
Sejumlah senjata api ditampilkan di Scottdale, Arizona, AS. (REUTERS/ Joshua Lott)
Harga yang mahal membuat sebagian orang memodifikasi versi semi otomatis dari M-16, yakni AR-15, agar bisa memuntahkan peluru sebanyak mungkin hanya dalam satu kali tekanan pada tuas pemicu.