Memulas Wajah Kampung Kumuh
- VIVA.co.id/Lucky Aditya
Nuryanto menjelaskan, semenjak dilukis dengan aneka gambar menarik, kampung ini semakin ramai dikunjungi. Dalam sehari saat hari kerja, pengunjung yang datang bisa mencapai 200 orang. Sementara saat akhir pekan, kampung ini bisa didatangi wisatawan lebih dari 800 orang.
"Dahulunya di sini kampung kumuh, syukur alhamdulillah sekarang bisa terkenal," katanya.
Terhubung jembatan kaca
Kampung Warna-warni Jodipan dan Tridi yang saling bersebelahan kini terhubung dengan jembatan kaca layaknya di China. Selain menawarkan rumah dengan latar belakang warna-warni, ruang baca perpustakaan Pagupon, ornamen payung pelangi, pigura foto, dibangunnya jembatan kaca juga sebagai bagian dari inovasi agar wisatawan tidak bosan berkunjung.
Berdiri sejak 2017 lalu, jembatan kaca membuat Kampung Warna-warni dengan Kampung Tridi makin ramai pengunjung. Wisatawan yang datang, kini bisa sekaligus mengabadikan indahnya dua kampung berwarna dari atas jembatan kaca.
"Warga luar kota ingin tahu bagaimana jembatan kaca pertama di Indonesia ini. Setelah dibangun, tugas warga adalah menjaga kebersihan, dan itu rutin kita lakukan," kata Pairin.
Namun, demi keamanan dan kenyamanan, saat malam hari jembatan ditutup dan digembok.
Berdiri toko-toko baru
Banjirnya wisatawan di Kampung Warna-warni mampu menggerakan roda perekonomian warga. Menurut Pairin, perkiraan jumlah pelaku usaha baru sebanyak 30 orang dari yang awalnya hanya sekira 3-5 toko saja.
Salah seorang pelaku usaha baru, Wempy Sutrisno, salah satunya. Wempy menjajakan makanan, minuman, hingga aksesori khas Kampung Warna-warni.
"Wisata berjalan empat bulan, baru saya buka usaha. Untuk aksesori saya jual gantungan kunci, kalender dan baju khas Kampung Warna-warni," kata Wempy.
Wempy bersyukur lahirnya Kampung Warna-warni menjadi berkah bagi warga sekitar. Namun ia menyayangkan peran Pemerintah Kota Malang yang dianggap kurang perhatian dengan potensi wisata yang ada.
Sejumlah suvenir khas Kampung Warna-warni, Jodipan, Malang, Jawa Timur. (VIVA/Lucky Aditya)
Ia mengeluh, minimnya modal yang dimiliki hampir sebagian pelaku usaha di Kampung Warna-warni. Ia berharap pemerintah mampu memberi pinjaman modal agar pelaku usaha yang ada bisa memenuhi kebutuhan wisatawan.
"Pemerintah ini tidak mendukung, tidak cawe-cawe dari awal, cuma terima kasih dan memberi ucapan selamat. Padahal kita sering tidak memenuhi permintaan wisatawan karena minimnya modal," ujar Wempy.