Tantangan Investasi Tol Tak Hanya Cari Duit dari Traffic

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Danang Parikesit.
Sumber :
  • Raden Jihad Akbar/VIVA.co.id

Jadi memang pendekatannya berbeda, kalau di Jawa mengakomodasi traffic yang besar, yaitu berpotensi kemacetan di kota. Kalau tol Trans Sumatra itu justru bisa semakin mendorong perekonomian sehingga bisa mengimbangi pertumbuhan di Jawa khususnya Jabodetabek.

Harapannya apa untuk tol ini?

Itu bisa menjadi mesin ekonomi baru. Apalagi kalau kita sukses yang menggabungkan investasi tol  dengan kawasan industri, pariwisata, kawasan bisnis, ini menjadi mungkin yang pertama di Indonesia yang komprehensif. Karena tidak hanya berbicara infrastruktur tapi juga sektor rill, industri, perkebunan, pertambangan, perdagangan dan sektor-sektor lainnya yang tumbuh karena jalan tol.

Dan menurut saya sangat menarik ya, pemerintah kita menerbitkan perpres tol Trans Sumatera dan itu atfirmatif dari pemerintah dengan biaya APBN se minimal mungkin. Sehingga badan usaha lah yang ditugaskan, tapi juga difasilitasi oleh kebijakan pertanahan, kawasan industri dan sebagainya. 

Lima tahun ke depan akan jadi sesuatu saat yang menarik untuk Sumatera. 2024 harus tersambung dari Aceh sampai Bakauheni. 

Ruasnya panjang-panjang di Trans Sumatera, pembebasan lahannya bagaimana?  

Kalau di Jawa itu kita bicara tol 30 km itu satu ruas sendiri. Di sana itu 100 km, 90 km, 140 km, jadi memang beda penanganannya. Tapi, tingkat pengadaan lahan di Sumatera meskipun ada, tidak terlalu sulit seperti di Jawa. Kalau pun ada yang sulit di beberapa daerah seperti hak wilayah adat, itu tantangan bagi kita.