Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Pasar Modal Indonesia Salah Satu Terbaik di Asia

Senin, 19 Agustus 2019 | 06:15 WIB
Foto :
  • VIVAnews/M Ali Wafa
Dirut BEI Inarno Djajadi

VIVA – Bulan ini, pasar modal telah memasuki usia yang tidak muda lagi. Tahun ini, sudah 42 tahun sejak diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia.

Meski sempat seret di awal 2019 karena faktor tahun politik terkait pemilihan umum, kinerja pasar saham perlahan bergerak kencang. Perusahaan-perusahaan yang mencari pendanaan melalui pasar modal pun mulai berbondong-bondong masuk bursa.

Baca Juga

Namun, faktor eksternal, termasuk perang dagang antara Amerika Serikat dan China, juga masih jadi perhatian. Belum lagi, investor pasar modal di Indonesia yang masih minim, merupakan pekerjaan rumah besar hingga saat ini.

Untuk mengetahui kondisi pasar saham saat ini, dan bagaimana otoritas bursa menyikapi serta mengantisipasi faktor internal dan eksternal yang melingkupinya, VIVAnews telah mewawancarai Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Inarno Djajadi, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya. 

Paruh pertama 2019, kinerja bursa efek sepertinya kencang sekali? Apa yang memengaruhi? 

Kemarin kan kalau kita lihat awal-awalnya seret juga, tapi begitu sudah diputuskan (pemenang Pilpres 2019) dan tidak ada penolakan ibaratnya, nah itu baru mulai berbondong-bondong mereka untuk mencatatkan (saham) di bursa. Satu hari bisa tiga atau empat (emiten baru) segala macam, yang memang itu adalah setelah dari pengumuman tersebut. Tapi memang awalnya seret juga, dan Alhamdulillah sekarang ke sininya sudah bagus.

Apakah juga karena ada regulasi yang lebih longgar atau memang perusahaan lebih memilih mencari pendanaan dari bursa?

Sebetulnya dari awal pun mereka sudah ingin, cuma momentumnya, kembali lagi kalau emiten itu kan yang penting timing. Sebelum ada kepastian politik atau presidennya siapa, dia masih menunda dulu kan. Kalaupun ada satu atau dua emiten baru mungkin karena mereka mengambil momen karena lagi kosong dan mau coba-coba. Tapi secara keseluruhan masih wait and see ya, begitu sudah ada keputusannya dan tidak terjadi chaos, baru mereka mulai berbondong-bondong.

Tapi kita juga termasuk di dalamnya itu ada relaksasi-relaksasi, seperti I-A (Peraturan Bursa tentang Pencatatan Saham). Terus kita lagi menyiapkan papan akselerasi, itu yang juga membuat orang ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk go public.

Jadi mulai kapan perusahaan-perusahaan itu persisnya berbondong-bondong mencatatkan sahamnya di bursa efek?

Kalau misalnya yang berbondong-bondong itu April (2019), tapi kalau untuk relaksasi kita ada I-A itu di Desember (2018). Seperti misalnya ada pergantian bahwa offering price itu minimal Rp100. Jadi nominal bisa kurang dari itu tapi harga perdananya minimal Rp100.

Lalu, kalau sebelumnya direktur independen itu harus ada, tapi kita pikir kemudian itu terlalu ketat ya, karena kan sudah ada komite audit, komisaris independen, maka akhirnya dilepaskan. Jadi yang seperti itu lah jadi kita ada satu relaksasi untuk perusahaan-perusahaan untuk go public dan itu baru terefleksi pada saat pengumuman (pemenang Pilpres 2019).

Jadi pada saat penetapan KPU kemarin memang langsung ramai, dalam satu hari jumlah pencatatan (listing) itu ada yang 3 emiten baru, 4 emiten baru, bahkan sampai 5 atau 6 emiten baru.

Apakah emiten baru itu memang baru menentukan untuk IPO setelah ada pengumuman pilpres atau dari sebelumnya sudah merencanakan, namun menunggu momen yang tepat?

Yang jelas mereka itu menunda untuk yang sebelumnya, begitu sudah ada kepastian ya sudah. Jadi mereka menunggu siapa pun yang menang itu terserah lah, tapi yang paling penting sebetulnya dari businessman itu adalah kepastian dan setelahnya tidak ada gejolak.

Berarti yang terjadi kemarin, perusahaan-perusahaan itu hanya menunggu timing listing?

Timing itu yang paling penting memang.

Selain edukasi yang sudah dilakukan, apalagi upaya BEI untuk mendorong perusahaan go public?

Yang sudah dilakukan BEI kan salah satunya sosialisasi dan edukasi. Kita itu rutin untuk melakukan roadshow ke daerah-daerah, terakhir kemarin ke Jogja, itu dilakukan sama-sama OJK. Biasanya kita ketemuan dengan gubernur terkait dengan rencana kita, misalnya mengenai masalah kita akan ada PE (public expose) di daerah dan diharapkan mereka berpartisipasi. Lalu kemudian juga biasanya di hari terakhir itu kita dinner bersama dengan calon-calon emiten dari daerah-daerah.

Yang sudah kita lakukan macam-macam, kita ke Ujung Pandang, Semarang, Surabaya, Jogja. Ada 6 daerah lah pokoknya yang kita lakukan bersama-sama dengan OJK, KPEI dan KSEI. 

Apakah sosialisasi di daerah itu juga akan menyasar sampai tataran UMKM?

Nah, jadi begini, itu juga salah satu yang kita sosialisasikan kepada mereka. Mereka itu kita terangkan bahwa pasar modal itu tidak eksklusif hanya untuk perusahaan-perusahaan yang besar saja. Kita sudah ada papan pengembangan, lalu papan akselerasi, gimana saat ini tangible asset-nya itu hanya Rp5 miliar untuk papan pengembangan itu. Jadi artinya dengan nett tangible asset Rp5 miliar itu sebenarnya sudah bisa go public, belum lagi nanti di papan akselerasi.

Jadi ingat bahwasannya kita itu tidak hanya menyediakan untuk yang besar-besar saja, tapi kita juga menyediakan untuk yang small medium enterprise juga.

Selain itu, untuk yang inkubator kita sedang mendorong perusahaan-perusahaan startup dan yang sudah grown field atau kira-kira siap go public. Apa saja persyaratannya itu, maka kita grooming, kita pupuk supaya nanti pada saatnya mereka bisa go public.

Tetapi di papannya sendiri itu ada beberapa, yakni papan utama, papan pengembangan, dan papan lagi yang akan kita siapkan yakni papan akselerasi. Yang utama memang yang lebih ketat aturannya. Tapi untuk yang startup di papan akselerasi itu lebih ringan lagi persyaratan dan modalnya. Keuntungan juga enggak perlu untung, rugi enggak apa-apa tapi mereka bisa memastikan bahwa dalam waktu beberapa lama mereka bisa untung.

Sejauh ini perkembangan startup untuk go public seperti apa?

Read more...
Topik Terkait
Saksikan Juga