Dari Mana Datangnya Presiden?

Andi Mallarangeng
Sumber :

Pengantar Redaksi:

Sejak berada dalam tahanan KPK, Andi Mallarangeng punya lebih banyak waktu luang. Sambil menunggu pengadilan, ia mencoba memanfaatkan waktunya secara produktif dengan membaca dan menulis. Aturan KPK tak membolehkan penggunaan laptop, iPad dan semacamnya oleh para tahanan. Andi menulis artikel ini dengan tulisan tangan, dan kemudian disalin kembali oleh Redaksi VIVAnews agar bisa dinikmati oleh pembaca. Andi berusaha menulis di rubrik “Analisis” sekali seminggu.

----

Pemilu sudah di ujung mata. Walaupun pemilu legislatif (pileg) lebih duluan, tetapi pemilu presiden (pilpres) tampaknya lebih besar gaungnya, lebih hot, dan lebih mengundang spekulasi.

Itu wajar saja. Pileg memilih 12 parpol dan lebih 500 orang wakilnya untuk menduduki kursi DPR di Senayan. Pilpres hanya memilih satu orang, Sang Nahkoda Republik, untuk menduduki satu kursi kekuasaan tertinggi eksekutif. Satu orang. Satu tokoh di Istana Merdeka, dengan kekuasaan pemerintahan yang secara potensial mampu menentukan apakah Indonesia akan tumbuh gilang-gemilang di masa depan, atau sebaliknya, terpuruk dan gamang dalam era global ini.

Sebenarnya, sampai sekarang belum ada kandidat yang dapat dikatakan sebagai calon presiden (capres). Yang ada barulah “balon” presiden, bakal calon presiden. Resminya, capres baru muncul sesudah pemilu legislatif. Ia harus mendapat dukungan dari satu atau gabungan partai yang memperoleh minimal 25 persen suara nasional atau 20 persen kursi DPR. Melihat fakta fragmentasi politik dalam masyarakat, persyaratan ini akan menjadi alat penyaring yang ampuh. Sebagian besar partai akan gigit jari, tidak akan mampu memiliki capresnya sendiri. Yang akan muncul paling-paling dua atau tiga capres resmi dari partai-partai besar yang ada.

Tetapi semua itu tidak mengurangi antusiasme untuk menjadi balon-balon presiden. Cukup banyak tokoh yang kini sedang berusaha meningkatkan popularitas dan menaikkan elektabilitasnya, mengatur strategi agar bisa menjadi kandidat capres papan atas. Dari situ, tinggal selangkah lagi bagi Sang Kandidat untuk melaju ke Istana Merdeka.

Dari segi jumlahnya, lumayan banyak tokoh yang kini muncul. Hampir setiap partai mempunyai satu atau lebih nama balon presiden. Bahkan salah satu partai muncul dengan 10 nama, yang kini bersaing dalam konvensi. Balon presiden ini datang dari berbagai latar belakang. Ada jenderal purnawirawan, ada anggota parlemen, menteri dan mantan menteri kabinet, gubernur, mantan hakim, diplomat, pengusaha, investment banker, pemilik media, akademisi, bahkan artis dan penyanyi. Siapa di antara mereka yang akan muncul sebagai capres betulan? Siapa di antara mereka yang akan menjadi Presiden RI ke-7? Kita tunggu tanggal mainnya.

Dari segi latar belakang atau asal-usul presiden kita, ada beberapa hal yang bisa dikatakan. Bung Karno adalah seorang insinyur, aktivis, dan seniman sekaligus. Pak Harto, jenderal dan akrab dengan dunia petani. Presiden Habibie, insinyur, profesor, mantan manajer perusahaan besar Jerman, serta mantan menteri kabinet. Gus Dur, ulama besar, budayawan, penulis, aktivis, mantan pendiri partai, dan bisa juga disebut humoris. Ibu Megawati, mantan anggota parlemen, aktivis, ketua umum partai, dan mantan wapres. Pak SBY, jenderal, mantan menteri kabinet, dan pendiri partai.

Enam presiden dengan beragam latar belakang yang berbeda. Polanya belum terlalu kelihatan, mungkin karena masih terlalu sedikit, maklum Indonesia masih muda, baru 68 tahun.

Karena itu, mungkin menarik jika Indonesia kita bandingkan dengan Amerika Serikat yang telah berusia 237 tahun. Siapa tahu kita akan mendapat gambaran ke depan tentang tokoh-tokoh yang akan memimpin negeri kita.

Negeri Paman Sam telah memiliki 44 presiden. Kecuali beberapa kasus, semua Presiden AS terpilih dalam pilpres secara langsung, lewat perwakilan electoral college yang agak sedikit rumit. Semuanya juga dicalonkan partai politik, kecuali Presiden George Washington, sebagai Presiden AS yang pertama. Pemilihan Bung Karno sebagai presiden mirip dengan George Washington: keduanya dianggap sebagai Bapak Pendiri Bangsa, dan karena itu, sewaktu pemerintahan pertama terbentuk pasca-revolusi, keduanya tidak perlu berjuang merebut atau berkompetisi lewat pemilu dalam bentuk apapun, tetapi diminta, dimohon, atau didorong untuk menduduki posisi terhormat tersebut.

Pada masa-masa awal, presiden AS datang dari generasi founding fathers, tokoh-tokoh yang terlibat langsung dalam perjuangan kemerdekaan, perumusan konstitusi, serta diplomasi luar negeri melawan Inggris. Setelah George  Washington, posisi terhormat itu berturut-turut diduduki oleh John Adams, Thomas Jefferson, dan James Madison. Selain pejuang kemerdekaan, perumus konstitusi dan politisi, tokoh-tokoh awal ini juga dikenal luas sebagai intelektual, filsuf,  natural scientists, pengacara, dan penulis yang cemerlang.

Dari segi ini, sejarah AS agak mirip juga dengan sejarah kita: Bung Karno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dan banyak lagi yang layak disebut sebagai the Indonesian founding fathers: mereka adalah kaum intelektual, pemikir dan penulis yang piawai (dalam soal ini, karena tulisannya yang mengalir, tajam, dan dengan kalimat-kalimat yang mudah dimengerti, Bung Karno adalah primus interpares di antara mereka. Kalau tidak menjadi presiden, atau kalau tidak terlalu sibuk membidani lahirnya sebuah bangsa, tokoh asal Blitar ini pasti bisa menjadi penulis lebih banyak lagi buku yang cemerlang). 

Bedanya adalah, kursi kekuasaan terlalu lama diduduki oleh presiden pertama dan presiden kedua kita. Kalau George Washington hanya 8 tahun menjadi presiden dan John Adams hanya 4 tahun, masa kekuasaan Bung Karno dan Pak Harto secara berurutan berlangsung praktis hampir setengah abad. Akibatnya adalah, tokoh-tokoh pendiri bangsa lainnya tidak sempat menduduki jabatan tersebut. Hatta hanya sempat menjadi wapres. Memang, ada beberapa yang menjadi perdana menteri (posisi tertinggi eksekutif waktu itu), seperti Sjahrir. Tapi karena pergolakan politik zaman itu, posisi ini hanya diduduki secara singkat, bahkan ada yang memimpin hanya dalam hitungan bulan. 

Kembali ke soal latar belakang dan asal-usul presiden, sosok yang juga cukup dominan di AS adalah para jenderal dan pahlawan perang, baik perang kemerdekaan, perang saudara, perang di perbatasan, maupun perang dunia. George Washington adalah jenderal perang, disusul oleh Andrew Jackson, William Harrison, dan Ullyses S. Grant. Tokoh terakhir ini adalah jenderal besar yang membantu Presiden Abraham Lincoln menaklukkan pemberontakan negara-negara bagian di selatan yang terus berusaha mempertahankan sistem perbudakan. Grant kemudian menjadi sangat populer dan terpilih menjadi presiden AS pada pemilu 1868.

Di abad ke-20, jenderal terkenal dan paling dicintai rakyat AS yang kemudian menjadi presiden adalah Dwight D. Eisenhower, panglima tertinggi sekutu yang berhasil mengalahkan Hitler dan menaklukkan Eropa. Rupanya, keterlibatan dalam perang, baik sebagai prajurit biasa maupun perwira menengah, juga menjadi daya tarik tersendiri bagi publik AS. John F. Kennedy adalah perwira menengah di US NAVY, angkatan laut AS, dan dianggap sebagai pahlawan muda yang heroik dalam Arena Perang Pasifik melawan Jepang. Jimmy Carter pernah bertugas sebagai perwira kapal selam nuklir. George HW. Bush adalah penerbang tempur dalam Perang Dunia II.

Daftar seperti ini masih bisa diperpanjang lagi. Tapi esensinya adalah, keterlibatan dalam perang, karir militer, serta heroisme dalam membela negara adalah resume yang penting bagi seseorang untuk menapak tangga politik hingga ke puncak.

Dalam hal ini, barangkali Indonesia juga hampir sama. Pak Harto dan Pak SBY adalah jendral yang dalam masa mudanya pernah terlibat dalam perang. Pak Harto dalam perang perjuangan, Pak SBY dalam perang di Timor Timur. Sekarang pun, dari banyak balon presiden yang ada, sebagian berlatar belakang militer (Wiranto, Prabowo Subianto, dan Pramono Edhi Wibowo). Apakah latar belakang militer sekarang ini masih memiliki daya tarik yang kuat di masyarakat kita seperti pada zaman Pak Harto dulu? Wallahu a’lam bissawab. 

Selain militer dan perang, latar belakang yang juga menonjol di Negeri Paman Sam adalah profesi hukum dan pengacara. Mayoritas presiden AS pernah berprofesi sebagai pengacara atau meniti karir di dunia hukum, sejak Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, sampai Bill Clinton dan Barrack Obama. Profesi hukum tampaknya menjadi modal besar untuk mengetahui berbagai seluk beluk ketatanegaraan. Ia juga menjadi arena yang tepat untuk melatih kemampuan seseorang dalam berdebat, menyajikan argumen yang tajam dan trengginas dalam mempengaruhi pikiran orang lain. Karena itu, profesi ini sering dijadikan sebagai pintu masuk ke dunia politik, mulai di tingkat lokal, sampai tingkat nasional.

Di luar itu, profesi dan latar belakang lainnya adalah dunia akademis, seperti Woodrow Wilson, guru besar ilmu tata negara dan rektor universitas paling bergengsi di AS, Princeton University (tempat Albert Einstein mengajar dan menghabiskan sisa hidupnya).

Di Indonesia, profesi hukum dan karir di universitas memang belum menjadi latar belakang yang menonjol dari balon-balon presiden yang ada. Mungkin karena usia sistem demokrasi kita masih muda. Dari tokoh-tokoh yang ada, hanya dua nama yang mengemuka, yaitu Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi dan akedemisi dari UII Jogja, serta Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina. Kita tunggu kiprah dan langkah keduanya dalam menapak karir politik sampai ke puncak. Barangkali bukan untuk pemilu kali ini, tapi untuk pemilu pada lima tahun berikutnya.

Di AS, menjadi anggota parlemen, baik di kongres maupun di senat, adalah salah satu jalan yang efektif untuk menjadi presiden.  Umumnya presiden AS pernah menjadi anggota parlemen, termasuk Presiden Obama. Posisi sebagai anggota parlemen memberi kesempatan kepada seseorang untuk dikenal publik, membangun dukungan politik, serta menguasai masalah-masalah pemerintahan.

Indonesia tampaknya demikian pula. Ibu Megawati pernah menjadi anggota parlemen. Pak SBY juga sempat duduk sebagai Ketua Fraksi ABRI di MPR. Banyak dari balon presiden kita sekarang adalah anggota atau mantan anggota parlemen, seperti Hatta Rajasa, Suryadharma Ali, Anies Matta, Hidayat Nur Wahid, Marzuki Alie, Hayono Isman.

Tren lain yang juga mulai muncul di negeri kita yang sudah menjadi tren umum di AS adalah pentingnya karir sebagai gubernur. Posisi gubernur di AS adalah salah satu anak tangga terbaik untuk sampai ke Gedung Putih. Dari enam presiden yang terakhir, empat di antaranya adalah mantan gubernur: Jimmy Carter (Georgia), Ronald Reagan (California), Bill Clinton (Arkansas), dan George W. Bush (Texas).  

Dengan menjadi gubernur, seorang tokoh dapat membangun rekam jejak yang positif dalam pemerintahan yang langsung bersentuhan dengan kehidupan orang banyak. Selain itu, karena dipilih langsung, tokoh tersebut sudah terlatih dalam mengikuti pemilu. Walaupun di tingkat lokal atau regional, pengalaman seperti ini jangan dianggap remeh. Ia memberikan kepekaan tertentu, melatih seseorang untuk mengerti apa dan bagaimana merebut hati pemilih, teknik, cara, dan gaya berbicara yang mudah dipahami oleh rakyat kebanyakan. Singkatnya, dengan menjadi gubernur, seorang tokoh telah lulus melewati ujian untuk berkompetisi secara terbuka serta, sebagai hasilnya, memperoleh panggung dan kesempatan untuk membuktikan diri sebagai pemimpin yang baik dan berhasil.

Tidak heran jika posisi gubernur di Indonesia juga sudah mulai menjadi modal besar untuk sampai ke Istana Merdeka. Walaupun masih perlu dibuktikan, namun beberapa nama kini sudah mulai muncul. Sinyo Sarundayang, Gubernur Sulawesi Utara, adalah salah satu peserta Konvensi Partai Demokrat. Gubernur lain, seperti Sukarwo (Jatim), Ganjar Pranowo (Jateng), Ahmad Heryawan (Jabar), Syahrul Yasin Limpo (Sulsel), Alex Noerdin (Sumsel) telah mengisi daftar baru calon-calon pemimpin nasional, kalau tidak sekarang mungkin di masa-masa mendatang.

Tentu saja, bintangnya para gubernur sekarang adalah Jokowi, Gubernur Ibukota RI. Secara tak terduga, dalam waktu relatif singkat, ia melejit dalam berbagai survei presiden. Ia kini menduduki posisi teratas. Walaupun belum benar-benar terbukti sebagai gubernur yang berhasil, banyak orang kini menunggu, apakah ia akan sampai ke puncak gunung? Akankah ia mendapat boarding pass untuk menjadi capres? Jawabannya ada di tangan Ibu Megawati. To be or not to be!

Apakah dari tangan putri Bung Karno ini akan lahir gubernur pertama yang menjadi presiden RI? Apakah fenomena Jokowi hanyalah fenomena kaum selebritas, yang gampang naik tetapi gampang pula turun begitu saja dalam waktu cepat? What goes  up must  come  down eventually? Sejarah sedang berputar, kita tunggu saja jawabannya dalam waktu dekat ini.   

Jalan lain untuk menjadi presiden yang juga mulai tampak menonjol di Indonesia adalah sebuah jalan baru, yaitu profesi dan latar belakang sebagai pengusaha sukses. Di Amerika Serikat sudah cukup lama pengusaha dan keluarga pengusaha besar mengisi deretan nama tokoh politik berpengaruh, termasuk jabatan presiden. Franklin D. Roosevelt, salah satu presiden AS yang dianggap paling berhasil, berasal dari keluarga pengusaha papan atas. Demikian pula John F. Kennedy dan keluarga Bush.

Selain memiliki modal besar untuk kampanye dan membangun jaringan nasional, tokoh yang sukses dalam dunia usaha biasanya memiliki karakter yang kuat, kemampuan yang sudah teruji dalam memimpin banyak orang, kreatif merebut peluang, serta mengerti bagaimana mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Dengan kualitas pribadi seperti ini, tidak heran jika banyak di antara mereka juga mudah meraih sukses di bidang lain, termasuk dalam bidang politik.

Bintang-bintang baru politik Indonesia banyak yang berasal dari latar belakang ini. Aburizal Bakrie (ARB), Jusuf Kalla, Surya Paloh, Dahlan Iskan, Harry Tanoe, Chairul Tanjung, Gita Wiryawan, Rusdi Kirana adalah beberapa nama yang kini menghiasi daftar panjang tokoh politik nasional. Sebagian dari mereka sudah menjadi balon presiden. Pak Kalla sendiri sudah pernah menjadi capres dalam Pemilu 2009, setelah sebelumnya menjadi wapres di bawah Pak SBY. 

Siapa di antara mereka yang akhirnya sampai ke Istana Merdeka? Presiden yang enterpreneur, usahawan sukses yang memimpin mesin pemerintahan: akankah Pilpres 2014 menjadi tonggak sejarah baru bagi dunia usaha di Indonesia?

Begitu banyak pertanyaan menarik. Tren baru, gejala baru, tokoh-tokoh baru, semangat baru, serta sejumlah teka-teki baru. Itu baru perbandingan dan telaah latar belakang menurut pengalaman, profesi, keahlian, dan pekerjaan capres atau balon presiden yang ada. Kalau kita tarik perbandingan Indonesia-AS ke aspek lain lagi, katakanlah dalam soal minoritas-mayoritas etnis, suku atau agama, maka banyak hal yang juga penting dan tidak kalah menariknya, tetapi sudah terlalu panjang untuk dijelaskan secara lengkap dalam tulisan ini.

Katakanlah dalam aspek kesukuan, agama, atau latar belakang kultural. Kennedy menjadi presiden pertama di AS yang beragama Katolik,  warga minoritas. Demikian pula Obama dalam soal warna kulit, sebuah persoalan panjang di AS yang pelik, rumit, dan berdarah. Kedua presiden ini menjadi tokoh historis antara lain karena mereka menjadi semacam tonggak peralihan yang menandakan bahwa transformasi yang lebih baik, lebih toleran dan lebih majemuk, telah terjadi dalam masyarakat.  

Dalam hal tertentu, barangkali kita bisa berkata bahwa Indonesia lebih beruntung. Kennedy dan Obama muncul setelah demokrasi AS berjalan dua abad. Habibie, yang bukan berasal dari suku Jawa yang mayoritas, telah menjadi presiden saat demokrasi Indonesia justru baru melangkah. Tentu saja, Habibie tidak dipilih langsung oleh rakyat, jadi ia bukan ukuran yang sempurna. Tapi fakta bahwa orang Jawa tidak melancarkan protes kesukuan di bawah pemerintahan Habibie yang singkat itu menandakan suatu hal yang cukup membesarkan hati.

Fakta lain yang mungkin lebih penting adalah munculnya begitu banyak balon presiden yang secara kultural betul-betul mewakili spektrum ke-Indonesia-an yang hampir sempurna. Aburizal Bakrie, Hatta Radjasa, dan Surya Paloh dari Sumatera, Jusuf Kalla dan Sinyo Sarundayang dari Sulawesi, Harry Tanoe dari kelompok keturunan China. Daftar ini masih dapat diperpanjang kalau kita meluaskan kategori kepemimpinan dalam bidang yang lebih luas.

Tentu saja, sekali lagi, kita  belum tahu siapa di antara mereka yang akan mencapai bintang di langit. Tapi terus terang, kalau memikirkan soal itu, kalau melihat fakta-fakta yang memperlihatkan bahwa pluralisme Indonesia terus berkembang di tengah demokrasi kita yang masih sangat belia ini, maka selalu terbersit perasaan bangga di hati saya. I am proud to be an Indonesian.

Mudah-mudahan perkembangan yang baik semacam itu terus berlangsung dengan cakupan yang lebih luas lagi. Dalam lagu Dari Sabang Sampai Merauke ada penggalan yang terus kita ingat: “sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia…” Dalam soal variasi dan latar belakang kepemimpinan, nampaknya semangat di balik lagu tersebut terus menjadi inspirasi kebangsaan yang berkembang semakin baik.

Harapan kita adalah, selain latar belakang yang semakin baik, kualitas tokoh-tokohnya pun demikian pula. Semakin plural, semakin toleran, tetapi juga semakin maju dan berkembang: itulah tujuan besar yang kita dambakan.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip kata-kata John Adams, Presiden AS ke-2, yang terukir di atas perapian di Gedung Putih: “Saya berdoa agar Allah Yang Maha Kuasa melimpahkan karunia-Nya atas gedung ini dan semua orang yang akan menempatinya. Semoga hanya orang-orang yang jujur dan bijaksana yang memerintah di gedung ini.”

Doa yang sama juga kita panjatkan bagi semua penghuni Istana Merdeka kita. Amin.


27 Februari 2014

Andi Mallarangeng adalah doktor ilmu politik lulusan Northern Illinois University, DeKalb, Illinois, AS.


Baca Juga Kolom Andi Mallarangeng lainnya: