Terima Kasih Veddriq, Rizki dan Gregoria!

Kolase Foto - Peraih Emas di Olimpiade Paris 2024
Sumber :
  • tim tvonenews

"Saya hanya berdoa saja, semoga cita citanya terkabul," ujar Rosita, ibunda Veddriq. 

Setiap atlet harus dilahirkan dengan kepala batu. Ia harus pribadi tak mudah menyerah, meski harus sendiri dan mengalami banyak situasi sulit. Suatu ketika Veddriq harus berlatih dengan alat khusus untuk melatih kekuatan tangan, namun ia tak punya uang untuk membeli perlengkapan penting itu. Tak hilang akal, Veddriq membuat sendiri alat tersebut dari kayu milik ayahnya yang bekerja sebagai tukang. Akhirnya ia memiliki "alat canggih" untuk meningkatkan kekuatan tangan.

Atau ketika ia tak punya sepatu, Veddriq tak masalah harus berlatih dengan sepatu milik teman temannya. Ia menunggu temannya selesai berlatih, ketika temannya selesai atau beristirahat, ia meminjam sepatu mereka untuk memanjat. Cukup lama kebiasaan ini dilakukan. Veddriq bahkan baru bisa membeli sepatu ketika terpilih sebagai atlet pelatnas.

Begitulah setiap atlet sejatinya sudah berjalan jauh sebelum sampai di batas prestasinya. Pada sebuah media saya melihat foto Veddriq berdiri gagah berseragam merah putih dan memegang medali emasnya. Persis di belakang, Menara Eiffel bahkan terasa kecil dengan pencapaian yang baru diraihnya.

Bertahun tahun sebelumnya di Pemusatan Pelatihan Nasional Atlet Panjang Tebing di Bekasi, pada sebuah kamar atlet yang tak megah, Veddriq telah menempelkan papan hiasan pada sebuah dindingnya. Prakarya bergambar Menara Eiffel berwarna emas  itu ia sebut "papan mimpiā€.

Tak hanya berlatih, ia merasa perlu melakukan afirmasi pada mimpinya itu terus menerus dengan memandang papan mimpinya. Setiap pagi dan petang dengan rasa lelah yang belum hilang, ia melihat papan mimpinya itu. Ritual ini seperti menumbuhkan semangat dan optimisme baru.

Begitulah anak yang 20 tahunan lalu sangat suka memanjat lambung kapal yang hilir mudik di Sungai Kapuas, sebuah kegembiraan yang sering menghasilkan benjol-benjol di kepalanya karena tubrukan dengan dinding luar kapal yang biasanya terbuat dari kayu ulin yang keras itu, kini menaklukkan atlet dari Amerika Serikat dan China sekaligus.

Veddriq tak sendirian mengerek merah putih ke tingkat dunia, hanya kurang dari 12 jam seusai Veddriq ukir sejarah, lifter Rizki Juniansyah juga membuat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang: ia meraih medali emas lewat angkat besi nomor 73 kilogram setelah mengakhiri dominasi idolanya asal China, Syifa Zhiyong.