Saat Jenderal Mulyono Kena Wajib Push-up di Markas Kopassus

VIVA Militer: Jenderal TNI (Purn.) Mulyono melakukan push-up
Sumber :
  • Youtube/Batalyon TV

VIVA – Karier Jenderal TNI (Purn.) Mulyono memang sudah berakhir. Akan tetapi, banyak cerita unik dari sosok seorang tentara yang rendah hati dan dicintai anak buahnya. Salah satunya, saat Mulyono kena wajib push-up. Lantas, siapa yang berani menyuruh seorang jenderal bintang empat melakukan push-up?

Dalam akun Youtube BatalyonTV, VIVA Militer melihat sebuah video unggahan yang mengisahkan cerita unik dari Mulyono yang saat itu masih menjabat sebagai Kepala Staf TNI AD (KASAD).

Menurut keterangan Batatalyon TV dalam video itu, Mulyono saat itu tengah melakukan kunjungan ke Markas Batalyon 14/Bhadrika Sena Baladika Komando Pasukan Khusus (Kopassus), di Kemang, Bogor. Dalam kesempatan itu, Mulyono pun menyampaikan arahan di depan 375 prajurit Kopassus.

Akan tetapi, dalam satu waktu muncul seruan push-up yang berasal dari sumber suara. Sontak, ratusan prajurit Kopassus di depan Mulyono berteriak "Komando". 

"Kenapa? Push-up dulu? Berapa kali? 20 kali?" ucap Mulyono di depan ratusan prajurit Kopassus Batalyon 14.

Meski punya pangkat bintang empat dan menduduki posisi KASAD, Mulyon sama sekali tak sungkan. Langsung saja, ia mengambil posisi dan melakukan push-up bersama seluruh prajurit Kopassus.

Setelah rampung melakukan push-up, Mulyono sedikit bercerita soal budaya push-up yang juga pernah ia jumpai. Mulyono mengingat sosok Letjen TNI (Purn.) Muhammad Yunus Yosfiah, saat masih menduduki posisi Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif) TNI AD (saat itu berpangkat Mayjen TNI). Dalam ingatan Mulyono, Yunus juga menjadikan push-up sebagai budaya di Pussenif.

"Ini bagus. Karena, dulu waktu Pak Yunus Yosfiah jadi Danpusenif, itu juga tradisinya begitu. (Bunyi himbauan di Pussenif di bawah komando Yunus Yosfiah) 'Yak bagi seluruh organik Pussenif seluruhnya melaksanakan push-up'. Ada juga program push-up 15 (kali), push-up 20 (kali). Jadi, itu juga tradisinya begitu," kata Mulyono melanjutkan.

"Jadi, fisik menjadi kebutuhan kita dan fisik itu adalah keterampilan. Keterampilan itu kalau tidak dilatih secara bertahap, bertingkat, berlanjut dan terukur, nanti rusak sendiri. Maka, teknik melatih fisik itu harus secara betul-betul," ujarnya.