Harley-Davidson Terus Ditinggal Penggemar, Ada Apa?

Jogja Bike Rendezvous memamerkan lebih dari 1.000 Harley Davidson. Ilustrasi.
Sumber :
  • ANTARA/Noveradika

VIVA.co.id – Motor gede Harley-Davidson sepertinya mulai kehilangan kedigdayaan. Penjualannya terus menunjukkan gejala buruk. Juli ini, pabrikan motor asal Amerika Serikat ini bahkan melakukan pengumuman, memangkas pekerjanya sebagai respons terhadap penjualan yang terus merosot.

Tak cuma motor, perusahaan yang bermarkas di Milwaukee ini juga mengaku penjualan berbagai aksesori berkendara mulai dari pakaian, apparrel, dan sejenisnya turut anjlok hingga 17 persen. Atas hal ini Harley kemudian merevisi target penjualan motornya menjadi 240 ribuan unit untuk tahun ini. Sementara pada tahun 2016, sebanyak 260 ribuan unit.

Chief Executive Office Harley-Davidson Matt Levatich mengatakan, penjualan mereka di Amerika saat ini turun 9,3 persen di kuartal kedua 2017. Sedangkan untuk penjualan di seluruh dunia, mengalami penurunan penjualan sebesar 6,7 persen pada periode yang sama. Penurunan masih merupakan kelanjutan dari rontoknya penjualan Harley Davidson sejak tahun 2014.

Matt Levatich pun membeberkan analisanya mengapa Harley kini mulai ditinggalkan penggemarnya. Kata dia, orang dewasa maupun kalangan milenial yang sebelumnya tertarik melakukan pembelian kini mulai meninggalkan kepemilikan sepeda motor. Mereka justru lebih nyaman menggunakan layanan angkutan berbasis aplikasi dalam jaringan atau lebih memilih naik sepeda.

"Kemampuan meneliti ini memang sulit. Ada laporan analis yang merujuk tren kepemilikan milenium pada penjualan motor baru. Tetapi kita seharusnya tak hanya melihat penjualan motor baru saja, karena motor bekas memiliki omzet 2 1/2 kali omzet pasar motor baru," kata Levatich seperti dilansir The Street, Jumat 21 Juli 2017.

Maka itu pihaknya sejauh ini mempertimbangkan cara baru untuk merangsang pembelian motor agar penjualan tak semakin terjun bebas. Di antaranya adalah menawarkan teknologi yang dibutuhkan pengendara, termasuk memperkenalkan motor dengan harga murah.

"Kita harus melihat tren psikologis, panggung dan demografis untuk membesarkan pasar Harley. Kita harus memahami dan memenuhi pelanggan di mana saja mereka berada, apakah mereka generasi milenium, Gen X, Gen Y, atau babyboomer, atau generasi yang akan datang. Kita harus bergeser untuk membangun motor yang sesuai dengan kebutuhan mereka."

Biaya Mahal

Penjualan sepeda motor diprediksi ke depan akan semakin merosot. Berbeda dengan generasi babyboomers, di mana memiliki sepeda motor merupakan ritus yang menyenangkan untuk menunjang aktivitas harian dan hobi. Tetapi di generasi milenial, bakal sedikit kalangan yang sengaja menyisipkan penghasilan untuk menabung membeli sebuah sepeda motor.

"Generasi muda sejauh ini telah menunjukkan minat yang jauh lebih rendah untuk mengendarai sepeda motor daripada generasi sebelumnya," kata David Beckel, analis industri AllianceBernstein, firma investasi yang berbasis di New York, dalam sebuah laporan mengenai Harley-Davidson.

Kata dia, dahulu mungkin seseorang bisa saja memiliki lebih dari satu motor. Tetapi saat ini mereka tidak lagi membeli sepeda motor. Mereka kini mulai menjual motor-motornya dan beralih ke transportasi online. Andaipun ada yang masih melakukan pembelian, itu berkutat pada sepeda motor berkapasitas mesin kecil.

"Salah satu alasan orang muda tidak berbondong-bondong membeli sepeda motor karena biaya untuk membeli dan merawatnya yang besar," kata dia.

Tentu saja ini tak hanya bakal menjadi kekhawatiran bagi Harley, tetapi juga bagi Ducati, BMW, serta pembuat motor besar lainnya. "Pergeseran demografis dan ekonomi yang stagnan akan membuat pertumbuhan penjualan motor di AS rata-rata ke tingkat yang sedikit lebih rendah untuk lima tahun ke depan," katanya.