Rute Distribusi Logistik PSU Ekstrem, Petugas Diminta Jaga Keselamatan

Petugas mendistribusikan logistik PSU di Makassar, Sulawesi Selatan.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Yasir (Makassar)

VIVA – Distribusi logistik untuk pemungutan suara ulang (PSU) di 85 Tempat Pemungutan Suara (TPS), dari sebelumnya 74 TPS, se-Sulawesi Selatan mulai dilakukan. Tak sedikit, lokasi TPS terbilang sulit untuk dijangkau. Rute pendistribusian harus menggunakan jalur laut. 

Pelaksanaan PSU di Sulsel akan dilaksanakan serentak Sabtu, 27 April 2019. Logistik pemilu minimal tiba di TPS sehari sebelumnya. Petugas tak punya waktu banyak untuk melakukan pendistribusian kotak suara, kertas suara, dan perlengkapan lainnya. 

PSU di Kabupaten Pangkep, misalnya. Dua TPS harus PSU karena persoalan teknis administrasi pemilih. Dua TPS itu berada di sebuah pulau, yakni di Pulau Tuppabbiring Utara, Kecamatan Liukang Tuppabbiring dan di Pulau Aloang, Desa Tampaang, Kecamatan Liukang Tangaya.

Untuk PSU di Pulau Aloang, petugas penyelenggara pemilu harus menempuh rute yang terbilang sulit untuk mendistribusikan logistik. Dari Pangkep, sekitar satu jam perjalanan darat petugas menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Kemudian logistik pemilu yang dikirim melalui jalur udara tersebut akan mendarat ke Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, dengan estimasi perjalanan satu jam. Di Bima, petugas harus menempuh jalur darat sekira 5-6 jam untuk sampai ke Sumbawa. 

Sumbawa berada di sebelah barat dari Bima. Rutenya yakni melewati kaki Gunung Tambora yang berada di antara Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu. Setiba di Sumbawa, perjalanan pendistribusian logistik dilanjutkan menggunakan jalur laut. 

Ketua KPU Pangkep, Burhan mengatakan, petugasnya akan menaiki kapal rakyat dari Sumbawa menuju Pulau Aloang. "Jadi dari Bima kita ke Sumbawa, menuju Aloang dijemput pakai kapal rakyat. Estimasi perjalanan laut sekitar 7 sampai 9 jam," kata Burhan di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Kamis, 25 April 2019.

Rute pendistribusian ke Pulau Aloang dari Sumbawa, kata Burhan, bisa menghemat waktu. Sebab, jika menggunakan rute Pelabuhan Paotere Makassar menuju pulau tersebut bisa memakan waktu 30 jam perjalanan laut. 

"Kalau lewat udara dan darat menuju Sumbawa kemudian ke Aloang bisa menghemat waktu. Kami estimasikan 12 jam saja petugas bisa sampai ke TPS. Kalau lewat Paotere bisa sampai 30 jam," ujar Bahar. 

Dia menambahkan, "Kami tidak punya banyak waktu, PSU tanggal 27 April, jadi logistik harus sampai sesegera mungkin".

Utamakan Keselamatan 

Komisioner KPU Sulsel Divisi Hubungan Masyarakat, Data, Informasi, dan Antar Lembaga Uslimin mengakui, sejumlah rute pendistribusian logistik pemilu di Sulsel harus menggunakan rute yang terbilang ekstrem. Waktu penyelenggaraan PSU sesuai aturan harus dilaksanakan maksimal 10 hari pascapemilu 17 April 2019. 

Ia berharap, petugas yang melakukan pendistribusian logistik, baik dari KPU, TNI dan Polri bisa mengutamakan keselamatan jiwa. 

Uslimin berharap, tak bertambah lagi korban dari penyelenggara akibat tugas mengawal pesta demokrasi tersebut. "Kami sudah imbau agar lebih hati-hati, jaga kesehatan dan mengutamakan keselamatan. Kita semua berharap, pemilu khususnya pada PSU ini tidak bertambah lagi korban-korban seperti sebelumnya," ujarnya. 

Sebelumnya, dalam waktu sepekan usai pelaksanaan pemilu pada 17 April 2019 hingga Rabu, 24 April 2019, KPU mencatat 144 petugas meninggal dunia. 

Sementara itu, Humas Polri mengatakan, 16 anggota mereka meninggal dunia saat menjalankan tugas dalam pemilu. Selanjutnya jumlah petugas yang sakit dikabarkan mencapai 347 orang.