Gaya Baru Kuras ATM
- www.pixabay.com/jarmoluk
Pakar keamanan siber Pratama Persadha menjelaskan, selanjutnya peretas akan menggunakan kode tertentu, misalnya kombinasi keypad ATM atau tombol lainnya untuk menguras semua uang yang ada di ATM.
Menurut Pratama, metode jackpotting ini jauh lebih berbahaya dibanding teknik lama, skimming pada sistem mesin ATM. Sebab, model pencurian dengan jackpotting ini bisa mengakibatkan seluruh uang di dalam mesin ATM tersedot keluar.
“Jackpotting sangat berbahaya, dalam waktu singkat bisa menguras mesin ATM. Dalam serangannya, para pencuri ini memerlukan akses fisik ke mesin ATM untuk melakukan instalasi malware langsung ke mesin ATM,” ujar chairman lembaga riset keamanan siber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) dalam keterangannya kepada VIVA, Senin 19 Februari 2018.
Sistem ATM memang menjadi dua sisi. Perbankan harus menjamin dan memastikan keamanan mesin ATM, sehingga nasabah nyaman bertransaksi pada layanan perbankan. Namun di sisi lain, keamanan itu bisa saya menyimpan celah yang dimanfaatkan oleh penjahat siber atau peretas.
Riwayat pembobolan ATM memang sudah cerita lama. Jauh sebelum muncul metode jackpotting, peretas sudah punya beberapa cara untuk mendapatkan uang di ATM secara ilegal.
Salah satu metode membobol ATM yang jamak dilakukan peretas yakni teknik skimming. Pada cara ini, peretas menggunakan alat yang ditempelkan atau ditambahkan pada mulut tempat memasukkan kartu ATM, dengan alat bernama skimmer.
Dalam teknik ini, menurut laman How Stuff Works, skimmer mencuri data pita magnetik pada kartu STM untuk bisa punya kendali rekening korban.
Teknik skimmer menurut riwayat pertama kali teridentifikasi pada 2009 di ATM Citibank, California. Seiring dengan perkembangan teknologi, telah ada pula jenis skimmer yang dilengkapi kemampuan membaca kode PIN kartu ATM.
Metode kuras ATM
Metode lain yang dilakukan peretas untuk mencuri uang di ATM yakni memutus jaringan mesin ATM. Peneliti laboratorium keamanan internet Kaspersky Labs, John Snow menuliskan, dalam metode ini, peretas memutus akses kabel yang menghubungkan mesin ATM ke jaringan.
Selanjutnya, peretas memutus jaringan ATM dari jaringan bank dan menghubungkan kabel jaringan bank ke alat miliknya. Alat ini berfungsi sebagai pusat pemrosesan palsu.