Demam Kuliner Serba Mi Instan
- Istimewa
Dia mengungkapkan, setiap pembeli yang datang bisa memesan delapan sampai 10 buah per orang. Bahkan, saat membuka pemesanan gelombang kedua pada pukul 12.00 WIB, 100 donat mi instan kembali ludes terjual.
Sebagai informasi, saat itu donat tersebut dijual dengan harga promosi yakni Rp10 ribu per buah. Sedangkan harga normalnya adalah Rp16 ribu per buah.
"Kayaknya kita sudah cukup untuk hari ini, maksimum 200 buah. Karena keterbatasan tempat dan alat, dan kita enggak prepare kalau antusiasmenya sampai segininya," ujarnya.
Antusiasme yang luar biasa tinggi juga membuat Donut Papi Sydney Doughnuts di Australia, yang awalnya menghadrikan donat Indomie sebagai menu istimewa yang hanya akan tersedia dalam periode waktu terbatas, yaitu hanya pada 25-27 Mei 2018, berubah pikiran. Mereka mengungkapkan bahwa mereka akan kembali menghadirkan menu tersebut dalam waktu dekat.
"Chaotic SOAB in a donut form- in a good way tho. This is our baby collab with @indomieau a while back and the aftermath of this product is so intense, we will bring it back sooner than you think. This is SOOO BIG, Imagine Beyonce performing in Superbowl. ?????????? You better stay tuned ???? ???? @issac_eatsalot," demikian tertulis dalam unggahan Instagram mereka.
Bukan hanya di Indonesia dan Australia, dilansir dari laman businessinsider.sg, Kamis, 21 Juni 2018, kreasi kuliner Indomie juga mulai populer di Singapura dan Malaysia. Dimulai dari para blogger kuliner yang mencoba membuat aneka panganan berbahan dasar Indomie, karena melihat tren di media sosial.
Dikritik praktisi kuliner
Meski banyak digemari, nyatanya donat dan berbagai kuliner yang terbuat dari mi instan banyak dikritik oleh ahli kesehatan dan praktisi kuliner. Salah satunya ialah Nanda Hamdalah, seorang praktisi kuliner dengan spesialisasi pastry, yang concern terhadap tren kuliner ini.
Menurut Nanda, kreativitas mengolah kuliner menjadi lebih inovatif patut diacungi jempol, namun tanpa disadari itu justru meningkatkan konsumsi mi berlebih, terlebih untuk anak-anak.
"Sekarang tanpa ada olahan (donat dan lain-lain) aja kita banyak mengonsumsi mi instan, bagaimana ada olahan itu? Karena makan mie terlalu berlebihan itu juga enggak baik. Apalagi dengan tampilan yang baru, orang jadi makin konsumtif dan itu kan ada pengawetnya, apalagi untuk anak anak," ujarnya saat dihubungi VIVA, Kamis, 21 Juni 2018.