Psikotes untuk Pembuat SIM
- VIVAnews/Anhar Rizki Affandi
"Kalau saya kurang setuju, karena menambah birokrasi lagi, tahapannya lebih lama, biaya, tenaga akan bertambah. Banyak orang saat ini kan maunya praktis. Nah, dengan adanya tambahan birokrasi ini akan memancing orang memakai jasa calo," kata dia saat berbincang dengan tvOne.
Senada disampaikan warga Jakarta lainnya, Hendri. "Saya tidak setuju. Selain membuang biaya, waktu juga, enggak optimal, orang jadi lama punya SIM. Masa seperti saya yang sudah lama punya SIM harus diulang lagi ikut psikotes? Alangkah baiknya enggak usah pakai psikotes lagi," kata Hendri.
Sementara itu, menurut Haryo, warga Jakarta lainnya, dirinya memaklumi apa yang hendak dilakukan kepolisian.
"Mungkin karena ditemukan banyak pengendara yang emosian saat ini di jalan raya. Mungkin itu alasan polisi kemudian memperketat, biar kenyamanan di jalan raya makin terjaga lagi," tuturnya.
Komunitas otomotif turut angkat bicara perihal rencana ini. Saladin Bonaparta, ketua umum komunitas Toyota Fortuner Club of Indonesia mengatakan, sejatinya tes psikologi untuk pembuatan SIM memang diperlukan.
Karena kejiwaan dan mental seseorang ketika mengendarai mobil di jalan raya berbeda-beda.
“Orang stres atau panik cara membawa mobilnya beda. Mungkin secara materi mereka bisa (beli mobil), tapi cara membawa mobil beda-beda. Menurut saya, psikologis itu penting penyuluhan, konsultasi atau tes, karena kejiwaan sangat penting dalam berkendara,” ujarnya saat ditemui Sabtu, 23 Juni 2018, di Jakarta Pusat.
Dia mengingatkan, ketika tes psikologi sudah diterapkan, jangan sampai ada masyarakat yang mengeluh karena pembuatan SIM jadi susah dan biayanya lebih mahal. Termasuk jangan sampai justru dimanfaatkan oknum-oknum tertentu untuk kepentingan yang tak jelas.
“Menurut saya, begitu kita mau buat SIM ada tes (psikologis), dan sampai lima tahun kemudian enggak perlu atau dalam masa perpanjangan. Tapi begitu 10 tahun mendatang era orang berbeda-beda, setelah itu baru adakan lagi tes psikologis, karena rentang umurnya sudah jauh,” tuturnya.
Dua Golongan
Berkaitan dengan hal spesifik, psikolog dari Biro Psikologi Andi Arta, Adi Sasongko menjelaskan, jumlah soal psikotes yang akan diberikan pada pemohon baru dan perpanjangan SIM nantinya akan berbeda-beda.