Polemik Dakwah di Dunia Malam

Gus Miftah saat ceramah di diskotek Bali
Sumber :
  • istimewa

"Itu biasa, kadang-kadang ada orang-orang munafik yang ingin tampil beda supaya kelihatan beda, seolah-olah mendakwahi di situ, ya enggak tepatlah," ujarnya.

Dia malah meragukan akan ada pengunjung diskotik yang langsung tobat setelah mendengar dakwah dan selawatan. Dia menyarankan untuk melakukan kegiatan keagamaan di tempat-tempat yang wajar, seperti masjid, musala atau rumah.

Sementara sebagian pengunjung di diskotik tersebut menolak dan memaki Gus Miftah, begitu juga dengan sejumlah netizen.

"Melantunkan kalimat-kalimat suci di tempat seperti itu dengan bau-bau alkohol dengan aurat-aurat yang terbuka sangat tidak pantas. Ada tempatnya sendiri," tulis salah satu netizen.

Netizen lain pun mengaku tak suka dengan tempat dakwah yang dipilih Gus Miftah. "Kalau memang niatnya mau salawatan, kenapa pada seksi semua? Kalau memang ustaznya ada niat ceramah, kenapa enggak sekalian dibagiin baju kurung biar ketutup auratnya?" tulis lainnya.

Soal polemik itu, Gus Miftah menanggapinya dengan bijak. Dia mengaku tidak mempermasalahkan mereka yang tidak setuju dengan caranya berdakwah. Menurutnya, dakwah juga berhak didapat oleh para pekerja hiburan malam karena dia ingin berbagi dengan mereka yang juga masih membutuhkan Tuhan.

"Senyinyir apa pun itu netizen menghakimi saya, mau mengatakan dajjal, kafir, sesat, dan sebagainya, saya tidak ada masalah. Tapi tolong jangan ganggu mereka untuk kembali bermesraan dengan Tuhannya. Karena mereka juga butuh Tuhan. Mereka juga butuh didekati. Kalau banyak yang tidak setuju, lumrah. Ini pasti kontroversi," tuturnya.

Psikolog Rose Mini Agoes Salim melihat bahwa niat berdakwah di tempat tak biasa itu bagus, lantaran memiliki tujuan yang positif. Namun, menjadi terasa kurang etis lantaran pengunjungnya berpakaian kurang sopan.

"Ibaratnya mau melakukan sesuatu perlu dipersiapkan diri dan orang yang ditemui. Kalau mereka di sana berpakaian seksi, pada waktu diajak selawat atau pengajian, kurang sopan. Baca Alquran kan harus sopan pakaiannya," kata wanita yang akrab disapa Romi, kepada VIVA.

Di samping itu, tak semua pengunjung bisa menerima kehadiran seorang pendakwah di 'dunia malam' mereka. Ini berbeda ketika dakwah dilakukan di masjid lantaran pengunjung yang hadir sudah niat mendengar.