Kampanye Damai, Jangan Cuma Jargon
- ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
"Saya juga paham kalau terjadi ketidakadilan, kaya segelintir saja, ini bukan cita-cita pendiri bangsa Bung Karno, Syahrir, Hatta, Sudirman, yaitu Indonesia Adil, Aman dan Makmur," tegasnya.
Kubu Jokowi-Ma'ruf Amin pun senada. Mereka sepakat tidak ingin menjadikan Pemilu Presiden 2019 ini, dikotori dengan isu SARA maupun hoax. Sebaliknya, Pilpres 2019 ini harus menampilkan adu ide, gagasan dan komitmen kuat kebhinekaan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.
"Dengan kampanye anti-black campaign, anti-hoax mengedepankan kebhinekaan kita, kebudayaan kita," kata Sekretaris Jenderal Tim Kampanye Nasional Jokowi Widodo dan Kiai Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto di kantor KPU, Jakarta Pusat, Sabtu 22 September 2018.
Di samping itu, internal koalisi petahana merasa berkepentingan mengontrol relawan pendukung di akar rumput dalam bermedia sosial. Kubu Jokowi-Ma'ruf tak ingin koalisinya di akar rumput melakukan fabrikasi dan penyebaran hoaks, serta penuh dengan ucapan nyinyir, alias 'nyinyirisme' dalam bermedia sosial.
"Jadi, kita coba kontrol dengan bahwa ada isu jangan dimainkan. Jadi, betul-betul instruksi yang dilakukan kontrol. Kita ada pemantauan. Kita tahu mana yang bermain dan tidak. Ini yang kita dorong terus, supaya kawan-kawan di bawah tak melakukan fabrikasi dan penyebaran hoaks," kata Juru bicara kampanye Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga usai diskusi di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu.
Ia tak ingin koalisinya bermain hoaks, karena itu ia selalu ingatkan bahwa pemilih sebenarnya bosan dengan ucapan nyinyir. Karenanya, Arya memastikan, timnya selalu diingatkan soal bahasa yang digunakan, terutama ketika dianggap tak positif atau nyinyir. Tim sukses Jokowi-Ma'ruf, menurutnya, harus membawa pesan-pesan positif.
"Kalau ada yang ngasih nyinyir, kita tegur. Biasanya, langsung terbawa mereka enggak berani lakukan hal nyinyir. Harus dibangun memang sebuah iklim di timnya sendiri. Jadi, harus berani kita dorong betul," ujar Arya. (asp)