Misteri Kematian Khashoggi
- Aljazeera
Sementara itu, jaksa penuntut Arab Saudi mengatakan, seorang perwira intelijen senior memerintahkan pembunuhan Jamal Khashoggi, bukan Pangeran Mohammed.
Jaksa mengenakan dakwaan terhadap 11 orang terkait pembunuhan itu dan lima di antaranya dituntut hukuman mati. Kasus pembunuhan ini telah diajukan ke pengadilan, dan penyelidikan terkait 10 orang lainnya masih berlanjut.
Hendak menikah
Khashoggi pertama kali mendatangi konsulat Saudi di Istanbul pada 28 September 2018, untuk mendapatkan dokumen bahwa ia telah menceraikan istrinya. Dengan begitu, ia bisa menikah dengan tunangannya, seorang warga Turki bernama Hatice Cengiz.
Kepada beberapa rekan, Khashoggi mengatakan dirinya "diterima dengan hangat saat melakukan kunjungan pertama" dan meyakinkan mereka bahwa dirinya tidak akan menghadapi masalah serius.
Meski demikian, ia menyerahkan dua telepon genggamnya ke Cengiz, dan meminta untuk menelepon seorang penasihat Presiden Erdogan jika ia tidak keluar. Cengiz menunggu lebih dari 10 jam di luar konsulat dan kembali pada pagi harinya, tapi Khashoggi tidak pernah muncul lagi.
Dilansir dari Hurriyetdailynews, Selasa 20 November 2018, rekaman kegaduhan di konsulat disebarkan oleh sebuah media online Turki. Dalam rekaman tersebut, diketahui Khashoggi langsung ditangkap saat masuk ke dalam konsulat.
“Lepaskan tangan saya. Apa yang kalian lakukan?” teriak Khashoggi dalam rekaman tersebut.
Penangkap jurnalis senior itu disebut-sebut adalah tim A konsulat yang berjaga di bagian pengurusan visa. Terdengar juga suara perkelahian, Khashoggi dipukuli dan kemudian disiksa. Salah satu pelaku penganiayaan disebut bernama Maher Abdulaziz Mutreb, salah satu orang yang selalu bepergian dengan Mohammed.
Presiden AS, Donald Trump mengaku telah mendapat briefing penuh sehubungan dengan rekaman suara pembunuhan Khashoggi. Tetapi, ia tidak mau mendengarkan rekaman itu.
"Kami mempunyai rekamannya. Rekaman itu berisi penderitaan, mengerikan. Saya tahu persis semua yang terjadi dalam rekaman itu tanpa mendengarkannya. Sangat bengis, keji dan mengerikan," kata Trump belum lama ini.
Namun, menurut Presiden Trump, laporan-laporan tersebut terlalu dini, dan mungkin saja tidak akan pernah diketahui secara pasti apakah putra mahkota terlibat. Ditambahkannya, ia tidak ingin kehilangan sekutu baik. Trump berkali-kali menekankan pentingnya hubungan antara AS dan Arab Saudi.