Menyelamatkan Indonesia dari Tsunami

Seorang bocah bermain dengan barang yang rusak diterjang gelombang tsunami Selat Sunda di Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Belajar dari peristiwa tersebut, di tahun berikutnya, tepatnya pada 14 Maret 2005, Indonesia dan Jerman mulai membangun sistem peringatan dini tsunami.

Perangkat teknisnya merupakan sumbangan Jerman kepada Indonesia, senilai 40 juta Euro. Sistem itu dikenal sebagai GITEWS (German Indonesian Tsunami Early Warning System). Tahun 2008 dikembangkan menjadi InaTews (Indonesia Tsunami Early Warning System).

Kedua, masyarakat menjadi sadar tsunami

Sebelum tsunami menerjang daratan Aceh, wilayah tersebut tidak memiliki sistem peringatan tsunami di Samudra Hindia yang terkoordinasi. Begitu pula masyarakatnya belum memiliki kesadaran tinggi terhadap tsunami.

Namun usai bencana, bukan hanya masyarakat Aceh yang belajar agar 'melek' tsunami, tapi seluruh Indonesia, terutama yang tinggal di wilayah pesisir. Setidaknya, masyarakat diharapkan cepat tanggap, jika terjadi gempa yang kemudian menyebabkan air laut mendadak surut, segera melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari terjangan gelombang.

Sayangnya, laju gelombang laut lebih cepat sampai darat ketimbang upaya melarikan diri. Sehingga jatuhnya korban jiwa pun tak terelakkan.

Ketiga, proyek infrastruktur peringatan dini tsunami

Setelah tsunami Aceh, pemerintah berupaya menyediakan alat yang bisa mendeteksi dini tsunami. Proyek infrastruktur pendeteksi bencana itu, seperti jaringan sensor dasar laut, gelombang suara yang sarat data, dan kabel serat optik, serta pelampung laut yang mengirim informasi jika ada perubahan gelombang air laut.

Tetapi karena dugaan perselisihan antar-lembaga dan masalah pendanaan, proyek belum bergerak lebih jauh dari tahap prototipe. Selain itu, vandalisme juga menjadi masalah tersendiri.

Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa pihaknya telah kehabisan tindakan selama enam tahun terakhir.

“Vandalisme, anggaran terbatas, dan masalah teknis adalah alasan mengapa saat ini kami tidak memiliki pelampung tsunami,” katanya. "Kita harus membangunnya kembali untuk memperkuat Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia."

Setelah tsunami Sulawesi yang mematikan pada bulan September tahun ini, kurangnya peringatan menimbulkan pertanyaan apakah jika sistem baru telah selesai dibangun, akan dapat menyelamatkan nyawa banyak orang.

Pakar manajemen bencana Louise Comfort dari University of Pittsburgh, dikutip dari laman SBS, berpendapat penanganan tsunami lebih dari sekadar isu bencana, melainkan tragedi sains.