KPK Kembali Diteror
- VIVA/M Edwin Firdaus
Adnan mengatakan, serangan teror ini seharusnya perlu dilihat sebagai ancaman terhadap agenda pemberantasan korupsi, mengingat KPK berada di garda terdepannya.
ICW pun mendesak, supaya teror ini diungkap cepat oleh penegak hukum, agar tidak lagi muncul spekulasi yang liar dan makin memanaskan suasana, mengingat saat ini telah masuk tahun politik.
"Kemudian, KPK juga perlu membangun sistem keamanan yang lebih baik, yang ditujukan kepada seluruh pegawai KPK, terutama yang rawan terhadap target teror," ujarnya.
Berikutnya, butuh dukungan Jokowi
Butuh Dukungan Jokowi
Selama ini, teror seolah menjadi risiko bagi penegak hukum, termasuk orang-orang yang berkerja di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Di tengah tantangan mengungkap kasus korupsi yang tak mudah, karena selain melibatkan para petinggi negeri, juga rentan terhadap upaya corruptor fight back atau serangan balik koruptor dengan berbagai cara.
Karenanya, tak hanya pimpinan, pegawai-pegawai KPK yang berkaitan langsung dengan upaya pemberantasan korupsi kerap menjadi sasaran teror koruptor dan kroninya. Sayangnya, dari sekian peristiwa tak banyak yang bisa diungkap polisi.
Kasus teror air keras Novel Baswedan misalnya, hampir dua tahun sejak peristiwa yang terjadi April 2017 lalu, polisi tak kunjung mengungkap siapa pelaku maupun aktor intelektualnya. Belum lagi, teror-teror lain yang dialami pekerja di KPK.
Dalam beberapa kesempatan, Novel menyebut serangan dan intimidasi pernah dialami pegawai KPK seperti penyerbuan dan teror terhadap safe house KPK, rumah penyidik diancam bom, mobil penyidik disiram air keras, bahkan sampai ada pegawai yang diculik dan ditangkap ketika bertugas.
Penyidik senior KPK, Novel Baswedan menganggap, teror bom yang menyerang dua pimpinan KPK ini tak ubahnya serangan terhadap institusi KPK, karena kerja-kerja pemberantasan korupsi. Ia menyadari, pekerjaan di KPK rentan terhadap teror dan serangan balik koruptor.
"Sebelum pimpinan KPK (diteror), ada beberapa ke pegawai KPK. Di KPK, pernah saya diserang empat sampai lima kali. Ada pegawai KPK diculik, ada yang barangnya dicuri. Teror ini belum pernah ada yang diungkap. Ini momentum, kita jadikan fokus titik tolak jangan sampai teror ini dibiarkan," kata Novel di tvOne, Senin 9 Januari 2019.