Dilarang Menyebut Kafir
- ANTARA FOTO/Adeng Bustomi
"Jangan panggil aku kafir, panggil aku nonmuslim. Lho gimana nanti baca ayat, kul ya ayyuhal non muslim. Kafir kan dari dulu."
Melawan Alquran
Tanggapan lebih keras disampaikan politikus Partai Gerindra, Muhammad Syafi'i. Menurutnya, keputusan itu merupakan perlawanan terhadap Alquran yang seharusnya tidak ada alasan untuk tidak setuju dengan kitab suci umat Islam tersebut ditinjau dari sisi apa pun.
"Menurut pandangan saya, sebuah perlawanan terhadap pedoman Alquran. Itu sudah diatur Allah dalam Alquran. Tidak ada alasan untuk tidak setuju (dengan Alquran) ditinjau dari sisi apa pun, untuk tetap menggunakan istilah kafir. Kafir dalam bahasa Alquran itu kan maknanya menutup diri dari ajaran Quran," kata Syafi'i, saat dihubungi VIVA, Senin, 4 Maret 2019.
Juru Kampanye Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno itu melihat ada yang aneh dari keputusan tersebut. Dia juga menilai, ada unsur politiknya.
Syafi'i menduga, larangan ini terbit, karena jualan soal infrastruktur dari kubu Joko Widodo-Ma'ruf sudah tidak laku lagi. Dia meyakini larangan itu memiliki muatan politik dan terkait dengan pemilihan umum.
"Mungkin, karena jualan tol tidak laku lagi, jualan kartu-kartu tidak laku lagi, sekarang jualan kafir. Pasti ada unsur politik dan sangat terkait dengan pemilu," kata Syafi'i, saat dihubungi VIVA, Senin, 4 Maret 2019.
Syafi'i menjelaskan lebih dari 500 istilah kafir dalam Alquran, juga terdapat dalam hadis nabi. Tidak mungkin munas suatu ormas bisa membatalkan kata-kata yang ada di Kitab Allah Alquran. Dia malah takut akan ada amandemen.
Sementara itu, kolega Syafii, Andre Rosiade, menyerang Said Aqil Siradj. Dia menilai Said sudah melakukan sesuatu yang tidak patut.
"Saya rasa, Said Aqil terlalu percaya diri, merasa kiai besar. Tidak pas lah dan di luar kepatutan umat Islam," ujarnya.
Demi Persatuan
Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin menilai usul yang dikeluarkan Nahdlatul Ulama mengganti kata kafir dengan nonmuslim untuk menjaga keutuhan bangsa. Menurutnya, kata-kata itu bisa menjauhkan, atau mendiskriminasikan.
Ma'ruf yang juga Mustasyar PBNU ini menanggap hal tersebut bukan ujug-ujug dilontarkan tanpa ada pertimbangan. Dia yakin para ulama telah melihat kondisi saat ini yang mana penyebutan itu dalam berbagai kesempatan telah memperlihatkan jarak.