Dilarang Menyebut Kafir
- ANTARA FOTO/Adeng Bustomi
"Kalau itu disepakati ulama berarti ada hal yang diperlukan pada saat tertentu untuk menjaga keutuhan bangsa. Istilah-istilah yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan itu untuk dihindari," kata Ma’ruf.
Terpisah, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin, mengakui pemakaian istilah kafir untuk menyebut nonmuslim harus dengan bijak dan hati-hati, apalagi di negeri majemuk seperti Indonesia. Tapi juga tidak dengan 'gebyah uyah' kata kafir dihilangkan.
"Dalam konteks berbangsa memang harus dibarengi dengan sikap tasamuh (toleransi), sehingga pemakaian istilah tersebut tidak dipakai secara peyoratif (memperburuk) kepada orang lain. Tapi juga tidak mungkin kitab suci yang sudah final lalu diamandemen," kata Din di Gamping, Sleman, seperti dikutip dari situs Muhammadiyah.or.id.
Din menyampaikan istilah kafir perlu dipahami secara menyeluruh, karena pemakaian istilah seperti itu bukan hanya ada di Islam tapi juga agama yang lain. Dalam Islam sendiri istilah kafir banyak disebut dalam Alquran dan ada surat yang secara spesifik nama dan dalam kandungan surat tersebut menerangkan tentang istilah kafir.
"Kita ini mukmin beriman, ada yang tidak beriman sesuai Islam disebut oleh Alquran dengan kata kafir, musyrik, juga fasik," katanya.
Din berpesan untuk tidak mengubah istilah yang ada di dalam kitab suci. Tapi harus ada kearifan dalam menggunakannya, termasuk dalam konteks saat ini. Istilah tersebut juga ada di agama selain Islam dalam menyebut orang yang berbeda dalam keimanan dengan mereka.
"Sebenarnya semua agama punya konsep teologi tentang 'the others and the outsider', karena semua agama itu memiliki yang disebut kriteria keyakinan," kata Din.
Meskipun demikian, putusan dari Munas NU sifatnya hanya sebagai fatwa. Karena ini sifatnya fatwa, maka tidak wajib diikuti.
Pengaruh Situasi Politik
Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, berpendapat keluarnya keputusan dari hasil Munas dan Konbes PBNU itu bukan tanpa sebab. Dia melihat kondisi dan situasi politik yang terjadi di Tanah Air sangat berpengaruh.
"Keputusan itu tidak ada di ruang hampa. Dia lahir dari potret dinamika politik kita yang sering muncul idiom kafir, dilontarkan oleh pihak-pihak tertentu," kata Adi saat dihubungi VIVA, Senin, 4 Maret 2019.