Tajir Lewat Hijab
- Instagram Vanilla Hijab
Untuk membuat hijab agar punya ciri khas, Linda sangat memikirkan segalanya, termasuk desain logo untuk nama brand-nya. "Logo kita ada titik empat yang melambangkan kancing yang ada di pinggiran kerudung kita."
Diakuinya, sudah sejak lama, dia ingin memiliki satu brand dengan tulisan dan nama yang eye catching. Bahkan dari awal, dia selalu mimpi punya brand bertaraf internasional.
"Jadi, aku kepengen punya suatu brand yang mudah didengar oleh lidah internasional juga enak," katanya, saat berbincang dengan VIVA.
Sempat kebingungan menetapkan nama brand, dia pun teringat ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saat merasa kebingunan, dia selalu melakukan hitung kancing. Nah, dari situlah terpikir untuk memilih nama 'Buttonscraves'.
"Dari situ langsung klik inspirasinya dan langsung muncul. Buttonscraves itu kancing dalam bahasa Inggris yang universal, aku pilih itu."
Bukan cuma memikirkan logo, dalam memulai bisnisnya, Linda juga memikirkan bagaimana packaging-nya, agar orang tertarik untuk membeli produknya. Sehingga, jika ingin menjadikan produk ini sebagai kado, tak perlu repot lagi untuk membungkusnya. "Karena, packaging Buttonscarves seekslusif itu."
Diceritakan pula oleh Linda, sebelum memulai bisnis ini, dia sempat bekerja di salah satu lembaga negara. Ketika memutuskan untuk tak lagi bekerja, kondisi keuangannya pun sedang goyang. Dan, saat memulai bisnis hijabnya, Linda juga menggunakan modal yang tak banyak. "Jadi, aku mulai dengan modal yang minim, Rp20 juta uang aku sendiri, dan Rp20 juta lagi aku pinjam dari kartu kredit buat modal.
Dari situ (kartu kredit) aku merasa punya tanggung jawab yang besar, aku harus bertanggung jawab karena sudah pakai uang orang."
Linda akhirnya bekerja keras bagaimana caranya agar dia tetap produktif menggunakan uangnya.
Dan bersyukur, bisnis di awal bulan pertama berjalan lancar. Tak main-main, untuk permulaan, dia mendapat keuntungan Rp10 juta. "Senang sekali bisa mendapatkan itu. Semua aku mulai sendiri, dari aku yang balesin chat, dari aku yang packing, ke JNE semua sendiri."
Setelah enam bulan bisnisnya berjalan, perlahan tapi pasti, semua berjalan lancar hingga Linda memiliki tim kerja tambahan. Tak main-main juga, pelanggannya bahkan bukan cuma dari Indonesia, tapi juga berasal dari luar negeri. "20 persennya itu market luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam."