Lawan Radikalisme Ala Menteri Agama

Menteri Agama Fachrul Razi
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

VIVA – Sejak dipilih, Menteri Agama Fachrul Razi tak henti menuai kontroversi. Setelah statusnya sebagai purnawirawan militer dipertanyakan, kini giliran kebijakannya yang menjadi kecaman. 

Belum sampai satu bulan menjabat sebagai Menteri Agama Fachrul Razi berjanji akan mencegah penyebaran paham radikal di berbagai instansi pemerintahan dan sekolah. Mantan Wakil Panglima TNI ini menegaskan tidak ada ruang bagi khilafah di Indonesia, karena hal tersebut tidak sesuai dengan dasar negara. Atas dasar itu ia mengingatkan jangan sampai ada Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjadi pendukung khilafah. 

Purnawirawan jenderal TNI itu menegaskan, visi dan misi yang diembannya sebagai Menteri Agama sesuai dengan visi misi presiden Jokowi. Dan hal tersebut menjadi program prioritas Kemenag.

Menurut dia, radikalisme itu nyata. Ia mengatakan, hal tersebut dilihat oleh mata kepalanya sendiri saat menghadiri upacara di salah satu BUMN.  Tak hanya itu Fachrul juga mengkritik pakaian yang digunakan para ASN, seperti celana cingkrang dan cadar.

Fachrul Razi mengingatkan ada aturan yang harus ditaati oleh semua pihak, terutama ASN saat masuk ke lingkungan kantor pemerintahan yang ada. "Yang tidak boleh masuk instansi pemerintah itu satu, pakai helm. Kedua yang mukanya nggak keliatan, saya enggak sebut cadar, kan bahaya orang masuk enggak tahu itu mukanya siapa," katanya dalam lokakarya Peningkatan Peran dan Fungsi Imam Tetap Masjid di Hotel Best Western, Mangga Dua Selatan, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu, 30 Oktober 2019.

Setelah itu ia juga mengkritik pakaian yang digunakan ASN, misalnya bercelana cingkrang. "Masalah celana cingkrang itu tidak bisa dilarang dari aspek agama, karena memang agama pun tidak melarang. Tapi dari aturan pegawai bisa, misal ditempat ditegur celana kok tinggi gitu? Kamu enggak lihat aturan negara gimana? Kalau enggak bisa ikuti, ke luar kamu," ujarnya. 

Fachrul juga mengaku bertemu pejabat BUMN yang tidak melakukan hormat saat pengibaran bendera dan lagu Indonesia Raya. Selesai upacara ia memanggil ASN tersebu dan menanyakan apakah di sakit. Ternyata ia mengaku tidak sakit.