Redupnya Barisan Nasional dan Nasib PM Najib Razak

PM Malaysia Najib Tun Razak (tengah) bersama Partai UMNO.
Sumber :
  • REUTERS/Bazuki Muhammad
VIVAnews - Koalisi partai yang berkuasa, Barisan Nasional, kembali menang Pilihan Raya (Pemilu) Malaysia, yang digelar 5 Mei lalu. Namun, tampaknya ini merupakan kemenangan terburuk yang dicapai koalisi yang digalang Partai UMNO itu dalam 56 tahun dominasi mereka di perpolitikan negeri jiran.

Mengikuti hasil Pemilu 2008, dukungan rakyat atas Barisan Nasional--koalisi partai yang dipimpin UMNO, pada Pilihan Raya kali ini juga menurun dan di luar target. Selain itu, kubu oposisi Pakatan Rakyat yang menjadi penantang Barisan Nasional melontarkan tuduhan kecurangan. 

Sehari setelah Pemilu dan penghitungan suara yang sangat cepat, pemimpin UMNO Mohammad Najib bin Tun Abdul Razak langsung dilantik. Di hadapan Raja Abdul Halim Mu'adzam Shah di Kuala Lumpur, Senin 6 Mei 2013, Najib diambil sumpahnya untuk kembali memimpin Malaysia sebagai perdana menteri untuk periode berikut. 

Kemenangan Barisan Nasional tampak disambut baik kalangan pebisnis, yang lega bahwa Pemilu berlangsung aman dan lancar serta masih dimenangkan pemerintahan sebelumnya. Indeks harga saham di bursa Kuala Lumpur naik hampir 8 persen di awal sesi perdagangan Senin. Kurs ringgit atas dolar AS naik hingga mencetak rekor tertinggi dalam 20 bulan terakhir. 

Menurut hasil perhitungan suara yang diumumkan Komisi Pemilu Malaysia, Barisan Nasional pimpinan Najib menang 133 dari 222 kursi yang diperebutkan di parlemen. Jumlah ini tujuh kursi lebih sedikit dari yang mereka peroleh dalam Pemilu 2008.

Hasil ini pun belum bisa mencapai target Barisan Nasional, yaitu ingin menjadi pemenang mutlak dengan menguasai 2/3 dari total kursi. Dominasi 2/3 itu hilang dari genggaman mereka sejak Pemilu lima tahun lalu.     

Musuh mereka, Pakatan Rakyat memang masih belum bisa menang. Namun koalisi tiga partai oposisi pimpinan mantan Deputi PM Anwar Ibrahim itu mengalami kemajuan dari hasil Pemilu 2008. Kali ini Pakatan Rakyat mendapat tambahan tujuh kursi sehingga menjadi 89.


Kemenangan buruk Barisan Nasional pada Pemilu kali ini akhirnya menimbulkan spekulasi yang tidak enak bagi PM Najib. Muncul desas-desus dia bakal dipaksa mundur, baik sebagai Ketua Partai UMNO dan juga PM, karena gagal mencapai target saat partai berkuasa itu menggelar kongres.


"Kita bisa saja melihat Najib mundur akhir tahun ini," kata seorang pejabat senior UMNO, seperti yang dikutip kantor berita
Reuters
. "Dia mungkin akan berjuang keras, namun dia sudah terlihat tidak bagus dan tidak punya daya tawar yang besar," ujar pejabat itu, yang tidak bersedia dipublikasikan namanya.


Najib diperingatkan bisa menghadapi tantangan kuat dari internal partai saat UMNO berkongres untuk memilih pengurus periode baru antara Oktober atau November mendatang. "Dalam putaran pemilihan di kalangan UMNO, kita akan lihat sejumlah pembelot akan muncul dan minta Najib mundur," kata pejabat itu, yang telah berpengalaman menjabat sejumlah posisi menteri dalam kabinet-kabinet yang lalu. Dia juga mengungkapkan bisa saja mantan PM Mahathir Mohamad turut mendesak Najib untuk mundur.


Apalagi Mahathir, yang masih berpengaruh besar bagi UMNO, tahun lalu kepada Reuters mengatakan bahwa Najib pada Pilihan Raya kali ini harus mendapat lebih dari 140 kursi, yang merupakan hasil buruk bagi Barisan Nasional pada Pemilu 2008. Bila tidak, lanjut Mahathir, posisi Najib akan tidak stabil.   


Kalangan pengamat juga menilai bahwa Barisan Nasional pada Pemilu kali ini tidak berhasil meraih suara populer (
popular vote
). Barisan Nasional pun, tidak seperti biasa, gagal meraih dukungan mayoritas dari negara bagian Selangor, basis industri yang dekat dengan Kuala Lumpur. Padahal Najib sudah bertekad akan memenangkannya.


"Najib kini memimpin suatu koalisi yang gagal meraih suara populer. Koalisi ini akan benar-benar berjuang keras untuk mengukuhkan legitimasinya," kata Wan Saiful Wan Jan, pengamat dari Institute for Democracy and Economic Affairs di Kuala Lumpur, seperti yang dikutip
Reuters
. "Saya merasa, ini akan menjadi periode yang tidak mudah bagi dia," ujar Wan Saiful.


"Tsunami China"

Najib pun menyadari bahwa kemenangan ini tidaklah seperti yang diharapkan. Menurut dia, hasil Pemilu ini menggambarkan makin besarnya perbedaan sikap di kalangan rakyat Malaysia.


"Keputusan rakyat ini telah menunjukkan tren-tren yang terbelah. Bila tidak segera ditanggapi, ini akan menimbulkan konflik bagi bangsa," kata Najib di markas Partai UMNO saat memantau hasil pemungutan suara, seperti yang dikutip
New Straits Times
.


Maka, prioritas utama pemerintahannya usai menang pemilu adalah mensolidkan lagi persatuan nasional. "Salah satu program yang akan kami tempuh adalah rekonsiliasi nasional. Menurut saya, kita menyadari bahwa masih banyak hal yang harus dilakukan sebagai partai," ujar Najib kepada para pendukungnya.


Ada beberapa faktor penyebab tergerusnya suara untuk Barisan Nasional, walau masih menjadi kubu berkuasa di Malaysia. Salah satunya, dan ini terkait pernyataan Najib di atas, adalah dukungan dari etnis China yang merosot.


Kian banyak pemilih etnis China di Malaysia, yang melingkupi seperempat dari populasi negeri jiran itu, mengalihkan dukungan dari Barisan Nasional. Tren ini mulai terlihat sejak Pemilu 2008.


Mereka beralih mendukung Pakatan Rakyat, yang menjanjikan bakal menumpas korupsi dan mengakhiri kebijakan yang melindungi ras tertentu, seperti yang selama ini diterapkan Barisan Nasional. Padahal Barisan Nasional mengklaim mewakili semua etnis di negeri yang berpenduduk 28 juta jiwa itu.


Berkurangnya dukungan etnis China kepada Barisan Nasional salah satunya bisa dilihat dengan menurunnya jumlah suara untuk MCA, partai peserta koalisi yang mewakili etnis China. Kali ini MCA hanya mendapat tujuh kursi, kurang dari setengahnya dari hasil yang mereka raih pada Pemilu 2008.


Najib menyebut fenomena ini sebagai "Tsunami China." Menurut dia, fenomena itu akibat para pemilih etnis China tergiur akan janji-janji politik dari Pakatan Rakyat pimpinan Anwar. Maka, dia bertekad bakal memulihkan lagi kepercayaan mereka kepada Barisan Nasional.


Tidak hanya dari etnis China, suara dari kaum mayoritas Melayu kepada Barisan Nasional pun tidak sebesar yang diperkirakan. Pengurangan ini terjadi di kalangan kelas menengah di perkotaan.


Kalangan investor berharap bahwa PM Najib akan meneruskan sejumlah rencana reformasi ekonomi, seperti pengurangan subsidi dan pengenaan pajak konsumsi baru untuk mengurangi defisit anggaran Malaysia, yang relatif tinggi sekitar 4,5 persen dari Produk Domestik Bruto.


Namun, dengan kemenangan yang tidak mutlak Barisan Nasional ini, muncul keraguan bahwa PM Najib bisa dengan lancar menerapkan sejumlah reformasi itu, meski dia tetap meneruskan Program Transformasi Ekonomi senilai US$444 miliar untuk menggalakkan investasi swasta dan melipatgandakan pendapatan per kapita mulai 2020.


"Hasil Pemilu yang cukup ketat ini berarti pemerintah kemungkinan sulit menjalankan reformasi anggaran," demikian penilaian Credit Suisse pada Senin, 6 Mei 2013. Lembaga riset keuangan itu juga memperkirakan polarisasi pemilih pada Pemilu ini juga akan menjadi tantangan besar bagi pemerintahan Najib.  


Tuduhan curang

Sementara itu, Anwar tampak belum rela menerima kekalahan. Dia bahkan menuding pihak berwenang bertanggungjawab atas sejumlah kecurangan yang mempengaruhi hasil Pemilu.


"Ini adalah Pemilu yang kami anggap curang dan Komisi Pemilu sudah gagal," kata Anwar dalam jumpa pers usai mengetahui hasil pemungutan suara pada Senin dini hari waktu setempat. "Kami menyaksikan sejumlah pelanggaran yang membuat kami tidak mendapat banyak kursi, terutama yang selisih hasilnya tipis," ujar Anwar seperti yang dikutip stasiun berita BBC.


Sementara itu, para warga Malaysia bersuara lantang di dunia virtual melalui petisi
Change.org
, menuduh terjadinya kecurangan besar pada Pemilu dan meminta PBB melakukan intervensi dan investigasi. Hingga Senin siang, lebih dari 140.000 orang telah menandatangani petisi
yang dimulai beberapa jam setelah Koalisi Barisan Nasional diumumkan sebagai pemenang. Petisi terus bertumbuh dengan sangat cepat.


Menurut Nick Allardice, Direktur Asia Pasifik Change.org, laju penandatanganan petisi sampai 1300 ttd/menit, dan disebar dengan laju 1100/menit.


“Ini bisa menjadi riak awal gelombang perubahan besar melalui pemanfaatan sarana digital, mirip yang kita lihat di "Arab Spring". Dalam kondisi restriktif di Malaysia sekali pun, pemberdayaan masih mungkin melalui dunia digital,” kata Usman Hamid, co-founder Change.org Indonesia, dalam pernyataan tertulis.


Terry Kok, warga di Kuala Lumpur, menilai ruang media siber tinggal satu-satunya tempat di mana warga Malaysia bisa menuntut sebuah hasil yang jujur. “Kalau PBB meluncurkan investigasi, akan lebih banyak yang menyaksikan, dan saat kesadaran internasional tumbuh, transparansi akan mengikuti, kebenaran akan terungkap. Suara kami dirampok di negeri sendiri, tolong bantu suara kami mencapai seluruh dunia,” kata Terry.


“Saya cinta negeri saya, Malaysia. Saya tidak marah karena BN menang, saya marah karena cara mereka menang,” kata Marissa Voo dalam petisi di laman Change.org.(np)