Sesak Asap, Tak Sesak Asa

Kabut Asap di palembang, Warga Shalat Minta Hujan
Sumber :
  • REUTERS/Beawiharta

VIVA.co.id - Akhirnya, Indonesia menerima dan meminta bantuan negara lain untuk mengatasi kabut asap yang semakin meluas. Melalui konferensi pers yang digelar pada Kamis, 8 Oktober 2015, Kementerian Luar Negeri menyatakan telah meminta bantuan lima negara untuk mengatasi kabut asap yang tak terkendali.
 
“Titik api semakin bertambah, ibu (Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi) menghubungi negara-negara tetangga untuk meminta bantuan. Ada lima negara yang dihubungi, yaitu Singapura, Malaysia, Australia, China, dan Rusia," kata Arrmanatha Nasir, juru bicara Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta.

Bentuk bantuannya belum ditentukan karena masih dibicarakan, yang pasti Indonesia butuhkan adalah pesawat yang mampu mengangkut air dengan kapasitas 10.000 liter.

Keputusan Indonesia disambut gembira oleh Singapura. Sebelum Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan pernyataannya, Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan sudah mengumumkan lebih dulu tentang permintaan Indonesia. Melalui akun Facebook-nya pada Rabu malam, 7 Oktober 2015, Vivian mengatakan Indonesia sudah bersedia menerima bantuan dari Singapura.

Malaysia juga menyampaikan kelegaannya dengan keputusan Indonesia. Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia, Hermono, mengaku Kedubes RI di Malaysia sudah menerima surat Perdana Menteri Najib untuk Presiden Joko Widodo.

Ada tiga hal yang disampaikan oleh PM Najib. Pertama, Pemerintah Malaysia prihatin atas bencana asap di Indonesia, yang juga memengaruhi masyarakat Malaysia, menghambat pendidikan anak, dan kesehatan. Kedua, meminta Pemerintah Indonesia agar secepatnya menanggulangi kabut asap.

Ketiga, Pemerintah Malaysia menyatakan kesediaannya memberikan bantuan kepada Indonesia untuk menanggulangi kabut asap secepat mungkin.

Kabut asap akibat pembakaran hutan di wilayah Sumatera dan Kalimantan nyaris terjadi setiap tahun. Namun tahun ini, kabut asap yang terjadi telah semakin mengganggu. 

Para ahli NASA bahkan memperingatkan kejadian kebakaran hutan tahun ini bisa jadi akan menyerupai peristiwa 1997. Diprediksi, dampaknya bisa lebih parah dibanding 1997.

"Kondisi di Singapura dan Sumatera bagian tenggara mirip dengan yang terjadi pada 1997. Jika sesuai perkiraan cuaca musim kemarau terus berlangsung, diprediksi tahun 2015 ini akan menjadi peristiwa yang paling parah yang pernah terjadi," ujar ilmuwan Robert Field dan bekerja untuk Institusi Kajian Luar Angkasa Goddard milik NASA.

Kabut asap yang meluas bukan hanya mencemari wilayah Indonesia. Namun, juga merambah negara tetangga. Malaysia, Singapura, dan Thailand ikut merasakan sesaknya napas akibat pekatnya kabut asap yang menyambangi mereka. Di dalam negeri, korban jiwa juga mulai berjatuhan.

Malaysia dan Singapura telah bersuara keras, karena kabut asap yang menurut mereka tak tertangani oleh Indonesia. Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan bahkan sempat mengeluarkan pernyataan pedas dengan mengatakan Indonesia tak peduli pada dirinya sendiri dan membahayakan negara lain.

“Ini sudah tidak bisa ditoleransi, hal ini sangat berpengaruh pada kehidupan ekonomi. Baru saja kemarin kami meliburkan sejumlah sekolah karena berbahaya bagi para siswa,” ujar Vivian.

Malaysia dan Singapura memang sempat meliburkan sekolah-sekolah di negaranya dan meminta setiap orang dengan kondisi kesehatan yang rentan untuk lebih banyak berada di rumah. Kedua negara ini juga terus melobi agar Indonesia segera menangani bencana ini.

Merasa sangat terganggu, warga Singapura dan Malaysia bahkan sempat  meramaikan jagad Twitter dengan tagar #terimakasihIndonesia untuk menyindir kabut asap yang mulai menggila di wilayah mereka.

Thailand yang baru beberapa hari tercemar juga segera mengambil sikap. Perdana Menteri Prayuth chan-ocha bahkan segera meminta delegasi Thailand untuk berangkat ke Indonesia dan berunding untuk mencari solusi.

Indonesia mengatakan tak pernah menolak bantuan dari negara lain. Namun, bantuan yang ditawarkan tak sesuai dengan yang dibutuhkan. Wakil Presiden Jusuf Kalla bahkan sudah mempersilakan negara lain untuk membantu Indonesia.

“Silakan saja kalau mau membantu. Kita terbuka. Singapura silakan kalau mau membantu, jangan hanya bicara,” kata Kalla, Senin, 28 September 2015.

Namun, tawaran bantuan dari Singapura dianggap tak memenuhi apa yang dibutuhkan.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangiley, kepada pers mengatakan, Indonesia menolak tawaran Singapura lebih karena bantuan yang ditawarkan oleh Singapura sudah dimiliki oleh Indonesia.

“Pesawat Hercules, pemotretan citra satelit dan helikopter yang mereka tawarkan sudah kita miliki semua,” kata Rampangiley, Rabu, 7 Oktober 2015.

Padamkan Ribuan Titik Api

Saat pertama terjadi, titik api yang ditemukan hanya berhitung belasan. Namun titik tersebut terus meluas. Dampak bencana kekeringan El Nino hingga membuat hujan tak juga turun ditengarai memperkuat perluasan titik api.

Tentara Nasional Indonesia (TNI) melalui keterangan pers yang diterima oleh VIVA.co.id, pada Jumat, 9 Oktober 2015 mengatakan, berhasil memadamkan 3.163 titik api dan asap dari 3.289 titik api akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di empat provinsi seperti Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Sejak terjadi kebakaran hutan di empat provinsi tersebut, TNI telah menerjunkan sejumlah 5.018 personel untuk membantu upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Namun, Arrmanatha mengatakan, masih banyak titik api yang harus segera dipadamkan. Indonesia tak mampu sendirian.

“Indonesia sudah menurunkan 26 helikopter, empat air tractor water bombing, dan empat pesawat lainnya untuk melakukan water bombing," kata Arrmanatha.

Sebanyak 65 juta liter air sudah disiram dan 250 ton garam juga disebarkan. Namun, masih ada sekitar 110 titik api. 

"Ini tantangan besar, jadi perlu kerja sama dengan negara-negara yang memiliki sumber daya yang bisa membantu kita memadamkan api,” ujar Arrmanatha.

Dan akhirnya Indonesia menyerah. Negara ini tak bisa sendirian mengatasi kabut asap yang semakin menggila dan membahayakan nyawa manusia. Maka tindakan segera diambil, Indonesia meminta bantuan lima negara yang dianggap mumpuni untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan.

Menindaklanjuti pernyataan bantuan kepada lima negara tersebut, pada Jumat, 9 Oktober 2015, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi segera terbang ke Malaysia untuk sejumlah pembicaraan. Salah satu agendanya adalah untuk membicarakan langkah-langkah yang mungkin dilakukan guna menuntaskan kabut asap. Menlu juga dijadwalkan bertemu empat negara lainnya.

Indonesia sudah melakukan langkah berbeda. Tak hanya menunggu, negara ini sudah menjemput bola dengan mengajukan permohonan bantuan kepada negara yang dianggap mampu membantu. Kini tinggal menunggu hasil. Adakah upaya pemadaman segera membawa harapan? (art)