Rinjani Ganggu Wisata Bali
Jumat, 6 November 2015 - 01:51 WIB
Sumber :
- PVMBG
"Yang penting penumpang happy (gembira), tidak merasa terabaikan, tidak terkomunikasikan (keluhan mereka)," kata Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV, Yusfandri Gona, dihubungi VIVA.co.id pada Kamis, 5 November 2015.
Baca Juga :
Menurut General Manajer PT Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai, Trikora Harjo, pada dasarnya tak banyak kerugian finansial yang ditimbulkan dari bencana itu. Soalnya sebagian besar calon penumpang hanya mengubah jadwal keberangkatan, bukan membatalkan dan meminta ganti kerugian.
Sebagian calon penumpang, terutama penerbangan tujuan Surabaya atau sebaliknya, memilih membatalkan penerbangan dan meminta pengembalian uang tiket, lalu memilih jalur darat. Tapi sebagian besar, termasuk wisatawan asing, memilih tinggal di bandara atau memperpanjang menginap. Turis asing yang akan ke Bali pun kebanyakan mengubah jadwal keberangkatan.
Otoritas Bandara telah memfasilitasi calon penumpang domestik yang membatalkan penerbangan, terutama mereka yang hendak menuju Surabaya. Para calon penumpang itu diantarkan ke Terminal Ubung, Denpasar.
Sebagian besar calon penumpang bertujuan Surabaya berharap melanjutkan penerbangan melalui Bandara Juanda di Surabaya ke beberapa tujuan domestik lain, seperti Jakarta dan Makassar.
Industri pariwisata
Sektor yang paling terdampak penutupan bandara itu adalah industri pariwisata. Banyak calon pelancong yang sudah memesan kamar hotel terpaksa mengatur ulang liburan mereka. Imbasnya juga pada subsektor lain, misalnya, restoran dan tempat-tempat hiburan di kawasan wisata di Bali.
Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, Ida Bagus Ngurah Wijaya, berterus terang bahwa banyak kerugian karena bencana itu. Tapi dia belum menerima laporan mendetail dan menghitung tingkat kerugian finansial.
Dia membandingkan dengan peristiwa serupa akibat erupsi Gunung Raung di ujung timur Jawa Timur selama Juli, Agustus, dan September 2015. Masa itu bertepatan dengan musim liburan dan Lebaran sehingga lebih banyak permintaan terhadap perjalanan wisata, hotel, restoran, dan lain-lain.
"Selama tiga bulan itu saja, kita kehilangan 30 persen dari kedatangan turis Australia," kata Ngurah Wijaya dihubungi VIVA.co.id.
Dampak letusan Gunung Barujari pada industri wisata di Bali, katanya, memang tak sedahsyat peristiwa serupa akibat Gunung Raung. Selain karena penutupan bandara hanya beberapa hari, juga bukan musim liburan. Tetapi tetap saja nilai kerugiannya tidak sedikit.