'Ide Gila', Virtual Reality untuk Terapi Trauma

Terapi Virtual reality (VR) University of Southern California, Amerika Serikat
Sumber :
  • University of Southern California, Amerika Serikat

"Kami perlu menciptakan lingkungan yang bermakna bagi pasien. Ini berarti adegan tiga dimensi perlu merangkum segudang isyarat yang mampu memunculkan kenangan traumatis. Mengakses isyarat traumatis sangat penting bagi keberhasilan terapi ini," ujar Pedro Gamito, profesor dari Universidade Lusófona, Portugal yang terlibat dalam proyek virtual serangan Paris.

Gamito mengakui tahap pengembangan terapi VR selanjutnya untuk korban serangan teror itu masih perlu waktu dan pembuktian. Sebab, memang terapi ini perlu sejumlah skenario yang dikembangkan. Dia mengharapkan, pengujian terapi ini dimulai dalam beberapa bulan ke depan.

Rizzo menegaskan, terapi VR bagi para korban teror dilakukan bukan untuk membuat mereka menderita. Dia bersama peneliti lain melakukan “ide gila” ini karena terapi ini punya potensi.

"Anda mungkin berpikir, mengapa melakukan ini, mengapa menyiksa orang-orang. Saya katakan karena kami tahu teknologi ini bekerja. Penelitian dan pengembangan terapi ini bukan 100 persen, tapi ini salah satu perawatan terbaik dalam uji klinis," kata dia.

Rizzo mengatakan, VR pada dasarnya menjalankan prinsip yang sama perawatan tradisional untuk para korban peristiwa tragis tersebut.

"Apa yang kami lakukan adalah mengikuti persis protokol dan ‘resep’ yang sama, jumlah yang sama dari segi sesi, prosedur yang sama. Yang berbeda adalah pasien mengenakan layar di kepala dan dokter menyiapkan lingkungan virtual berdasarkan memori trauma pasien," ujar dia.

Namun demikian, tantangan yang dihadapi ke depan adalah bagaimana meyakinkan generasi muda yang lebih akrab VR untuk penerapan video game saja.

"Kami menemukan ada orang yang masih terlibat karena VR adalah sesuatu yang asing dan ini adalah gangguan saat ada penghindaran (penerapan teknologi VR). Ini adalah gejala yang umum," kata dia.

Rizzo berharap terapi berbasis VR ini akan berkembang ke depan. Dia saat ini memang fokus pada pasien tentara, tapi berharap ke depan bisa beralih ke pasien warga sipil, yang mengalami berbagai trauma mulai dari kecelakaan kendaraan, cuaca buruk, hingga korban kekerasan seksual.