Jakarta Terancam Rob

Banjir rob di Jakarta Utara
Sumber :
  • ANTARA/Fanny Octavianus

Rob tak hanya melanda Perumahan Pantai Mutiara. Setelah menggenangi permukiman itu, rob menerjang kawasan Muara Angke. Tanggul penahan air laut di lokasi itu pun jebol. Akibatnya, ratusan rumah dan pelelangan ikan terendam banjir dalam peristiwa Sabtu malam, 4 Juni 2016 itu.

Sehari kemudian, air laut merendam kawasan pelabuhan Muara Baru. Rob menggenang mulai Minggu, 5 Juni 2016, sekitar pukul 22.00 WIB. Ketinggian air mencapai sepaha orang dewasa.  Air laut juga masuk ke dalam kantor Polsek Muara Baru.

Pasar pelelangan ikan tak luput dari terjangan rob. Bahkan, kehadiran rob setinggi pinggang orang dewasa itu sempat mengganggu aktvitas di pasar tersebut. "Pelelangan tidak lumpuh, tapi memang terganggu,” ujar Kapolsek Muara  Baru, Ajun Komisaris Polisi Mulyana, Senin, 6 Juni 2016.

Selanjutnya…Ancaman Banjir Air Laut

Ancaman Banjir Air Laut

Banjir air laut atau rob kerap melanda Jakarta. Pembangunan Terpadu Pesisir Ibu Kota Negara atau National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) dalam situsnya, ncicd.com, menyebutkan penurunan tanah di wilayah Jakarta Utara merupakan penyebab banjir pasang di kawasan itu. Kecepatan penurunan tanah rata-rata 7,5 sentimeter (cm) per tahun. Akibatnya, sekitar 40 persen dari wilayah Jakarta Utara berada di bawah muka air laut.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengemukakan, rob menjadi ancaman serius bagi Jakarta. Berdasarkan hasil pengukuran tahun 1925-2010, permukaan air laut Jakarta selalu naik setiap tahun.

Kenaikannya rata-rata 0,5 cm per tahun. Di sisi lain, penurunan muka tanah Jakarta terus terjadi. Penurunan itu mencapai 5 cm hingga 12 cm per tahun di sejumlah titik selama tiga dekade terakhir. “Kondisi itu yang menyebabkan akumulasi permukaan air laut yang menggenangi tanah Jakarta jadi lebih tinggi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa, 7 Juni 2016.

Dari hasil penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB) selama 1982-2010, ditemukan penurunan muka tanah tersebar di sejumlah tempat di Jakarta. Penurunannya bervariasi 1-15 cm per tahun. Bahkan, di beberapa lokasi terjadi penurunan 20-28 cm per tahun.

Kawasan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, merupakan salah satu wilayah yang mengalami penurunan muka tanah cukup besar. Selama tiga dekade ini, beberapa daerah di Pluit mengalami penurunan tanah 1,8 meter hingga 3 meter. “Kombinasi antara turunnya tanah dan naiknya muka air laut itu yang menyebabkan rob,” ujarnya.