Beratnya Ramadan di Mancanegara
- Reuters/Umit Bektas
Rusia menuding serangan itu dilakukan oleh kelompok militan ISIS dan Al Nusra. Diberitakan oleh Sputniknews, 7 Juni 2016, dalam 24 jam, pemukiman Handrat, Bandara al-Nairab serta al-Muhafaza, Meydan, Sheikh Maqsood dan kabupaten al-Zahra di Aleppo menjadi sasaran tembakan dari beberapa peluncur roket dan mortir," kata sebuah pernyataan yang disampaikan oleh Pusat Rekonsiliasi yang berbasis di Rusia.
Sementara itu di Damaskus, jantung kota Suriah, warga melalui Ramadan dengan keluhan mahalnya harga makanan. Perang yang telah berlangsung selama lima tahun membuat pasokan makanan sangat sedikit, akibatnya harga meroket, bahkan melonjak hingga 600 persen. Tradisi Ramadan tak bisa lagi mereka nikmati karena harga pangan yang tak terjangkau.
"Sudah bertahun-tahun kami tak lagi bisa menyediakan daging di meja makan kami. Hanya ayam dan sayuran. Dulu kami hanya menghabiskan belanja sekitar Rp800 ribu per bulan, namun sekarang kami harus menghabiskan lebih dari Rp13 juta untuk makanan yang tak seberapa," cerita seorang wanita yang tinggal di Damaskus, seperti dikutip dari BBC, 7 Juni 2016.
Dr. Salma al Nasr, seorang dokter gigi yang berpraktik di Suriah mengatakan pada Al Arabiya, Ramadan di Suriah sebelum perang, tak bisa dibandingkan dengan Ramadan setelah perang. Menurutnya, setiap Ramadan, harga makanan memang selalu lebih mahal, namun saat itu bahkan keluarga yang paling miskin mampu menghidangkan daging di meja makan mereka.
"Kami menyantap kibbeh (pie daging), dan anggur segar setiap hari," ujarnya. "Bagi warga Suriah, menyantap daging seperti mengunyah apel sebagai cemilan," katanya menambahkan. Tapi situasi kini berubah total. Daging sangat langka dan harganya melangit.
Jika di wilayah Timur Tengah, Muslim merayakan Ramadan di tengah desingan peluru, dan harga bahan makanan yang sangat mahal dan langka, maka Muslim di Eropa akan melalui Ramadan dengan waktu berpuasa yang jauh lebih panjang. Di Inggris, Muslim akan berpuasa selama 19 jam. Lamanya waktu berpuasa di Inggris bahkan membuat Wali Kota London yang Muslim, Sadiq Khan, mengaku akan sangat merindukan kopi.
"Biasanya saya meminum kopi untuk menjadi semangat di tengah rapat yang membosankan. Namun waktu puasa kali ini sangat panjang, dan saya tak tahu bagaimana melaluinya," ujar Khan, seperti dikutip dari The Guardian, Senin, 6 Juni 2016.