Beratnya Ramadan di Mancanegara
- Reuters/Umit Bektas
Situasi terberat mungkin akan dialami Muslim di Denmark, di mana mereka akan berpuasa selama hampir 21 jam. Di Denmark, saat ini matahari hanya terbenam selama tiga jam.
"Di dataran tinggi, cahaya tidak pernah benar-benar pergi. Itu senja, bukan gelap gulita. Kami masih harus menjalani kehidupan, sehingga bisa saja puasa terasa menjadi sulit," ujar Dr Waheed Khan, dari Inverness Masjid, Inggris, ketika berbicara tentang tantangan agar umat Muslim bisa menghadapi bulan Ramadan. "Tapi Muslim termotivasi untuk berpuasa. Berpikir tentang hal itu sepertinya sulit, tetapi melakukannya akan baik-baik saja," katanya, seperti dikutip dari IB Times, Selasa, 7 Juni 2016.
Sementara di Saudi Arabia dan negara sekitar teluk lainnya, selain berhadapan dengan waktu puasa yang mencapai 15 jam, maka Muslim di Saudi Arabia dan sekitarnya juga harus berjuang dengan suhu udara yang cukup tinggi, mencapai 50 derajat celcius.
"Temperatur maksimum di Saudi Arabia dan negara teluk lainnya akan berkisar diantara 45-50 derajat celcius selama Ramadan," ujar ahli metereologi Saudi, Khalid Al Zuak, seperti dikutip dari whatson.ae, 7 Juni 2016.
Kondisi sosial politik yang tak aman, waktu berpuasa yang amat panjang, atau kondisi cuaca dan temperatur suhu yang ekstrem jelas dihadapi Muslim di seluruh dunia. Namun situasi itu tak menyurutkan keimanan mereka untuk tetap menjalankan salah satu perintahNYA. Maka, meski hadangan begitu nyata di depan mata, kalimat dari Dr. Waheed Khan sangat relevan jadi pegangan, "Tapi Muslim termotivasi untuk berpuasa. Berpikir tentang hal itu sepertinya sulit, tetapi melakukannya akan baik-baik saja."