Menakar Hubungan Indonesia-Jepang

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe dengan Presiden Joko Widodo, saat bertemu di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu, 15 Januari 2017.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

VIVA.co.id – Jepang secara historis menjadi salah satu investor terbesar di Indonesia. Kedua negara telah menjalin ‘hubungan mesra’ sejak 1958. Salah satu yang mempererat hubungan adalah kerja sama bidang ekonomi.

Bahkan, Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, berani menyebut orang Jepang bila mendengar kerja sama ekonomi, yang terbayang adalah kerja sama dengan Indonesia. Kendati demikian, kemesraan kedua negara sempat ‘renggang’ pada 2015.

Kala itu, Presiden Joko Widodo memberikan proyek kereta api berkecepatan tinggi yang menghubungkan DKI Jakarta dengan Bandung, Jawa Barat, kepada China. Menteri Badan Usaha Milik Negara, Rini Soemarno, menetapkan China sebagai pemenang tender untuk menggarap proyek tersebut.

Keputusan Menteri Rini keluar setelah tiga bank BUMN mendapat utang baru senilai US$3 miliar atau Rp40,2 triliun dari Bank Pembangunan China (China Development Bank/CBD). Padahal, Jepang adalah negara yang sejak lama sudah berinvestasi besar di Indonesia.

Sementara itu, kereta api cepat China belum teruji setangguh kereta api cepat buatan negeri Matahari Terbit yang sudah 50 tahun lebih menggunakan teknologi canggih dengan zero accident.

Tak pelak, tindakan ini tidak hanya mengancam hubungan Indonesia dan Jepang, tetapi berpotensi membuat ketegangan baru antara China dan Jepang. Terlebih, keduanya memang sudah sejak lama kurang baik hubungannya akibat faktor sejarah.

Meski begitu, kerenggangan hubungan cepat redam, dengan kunjungan PM Abe ke Indonesia pada 15-16 Januari 2017. Mengutip situs Reuters, Senin, 16 Januari 2017, Indonesia dan Jepang menyepakati untuk pembangunan proyek kereta api cepat yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya, Jawa Timur dengan jarak 600 kilometer (400 mil) yang ditempuh hanya lima jam.

Biaya yang dibutuhkan mencapai Rp80 triliun, meleset dari perkiraan Jepang yang mencapai Rp102 triliun. Jika terealisasi, harga tiket kereta cepat Jakarta-Surabaya ini berkisar Rp500-600 ribu, dengan kecepatan 160 km/jam.

Alhasil, wajah PM Abe kembali semringah dan ketegangan pun mereda. Tak hanya itu. Kedua kepala negara ini juga membahas isu-isu global yang sedang hangat-hangatnya.

Meski tidak secara langsung, PM Abe meminta bantuan Indonesia untuk menengahi konflik di Laut China Selatan dan Semenanjung Korea.