Ponsel yang Bangkit dari 'Kubur'

CEO Microsoft Steve Ballmer dan eksekutif Nokia Stephen Elop
Sumber :
  • REUTERS/Brendan McDermid/Files

Dihubungi terpisah, mantan petinggi Nokia di Indonesia, yang saat ini menjabat sebagai President Director PT Teletama Arta Mandiri (TAM), Hasan Aula, optimistis Nokia mampu meraih pasar di Indonesia. Selain nama besar Nokia, seri 3310 juga dianggap sebagai citra baik Nokia yang masih membekas di mata masyarakat Indonesia.

"3310 tentu bisa mendongkrak nama Nokia. Nama itu masih punya potensi yang bagus. Erajaya dan TAM tentu sangat tertarik mendistribusikannya, mengingat ponsel fitur masih punya pasar yang lumayan di Indonesia," ujar Hasan Aula.

Namun, langkah Nokia harus mendapatkan tantangan dari pemerintah yang kabarnya ingin mematikan distribusi ponsel 2G atau ponsel fitur seperti 3310. Setahun lalu, Kominfo pernah mengungkap jika pemerintah ingin ngebut dalam hal akses broadband internet.

Artinya, penyebaran smartphone akan digeber dan membuat semua pengguna ponsel 2G beralih ke smartphone. Sampai-sampai ada wacana untuk tidak lagi memberikan izin edar untuk ponsel fitur.

Walaupun langkah ini baru sekadar wacana, karena menurut pihak Kominfo butuh waktu untuk membuat 70 persen pengguna 2G beralih ke smartphone, seiring dengan akses internet yang belum merata.

Selanjutnya, Nokia di Masa Lalu

Nokia di Masa Lalu

Nokia memulai usahanya di abad 19 sebagai pabrik kertas tunggal yang kemudian menjadi bagian kerajaan Rusia. Perusahaan itu kemudian tumbuh menjadi konglomerat industri yang mengurusi segala sesuatu, dari sepatu karet hingga gas. Mereka masuk ke bisnis elektronik pada 1960.

Dari 1980 hingga 2000, mereka masuk ke ranah mobile. Bisnis ponsel mereka mulai membesar dan menjadi merek nomor satu di dunia. Nama Nokia menjadi merek ponsel yang dibanggakan.

Semua orang berlomba menjadi pemilik telepon genggam besutannya itu. Nokia juga yang pertama kali menggelontorkan seri smartphone pertamanya yang termahal.

Namun kala itu, mereka tidak menyebutnya sebagai smartphone, melainkan seri Communicator. Pada 2004 diluncurkan Communicator 9500 dengan harga hampir Rp10 juta.

Sayangnya, kejayaan Communicator hanya sebentar. Layar sentuh mulai booming dengan kehadiran iPhone dan sistem operasi Android. Communicator Nokia yang hanya mengandalkan OS Symbian mulai tersingkir.