Jejak Baru Asal Usul Manusia

Fosil tua nenek moyang manusia
Sumber :
  • www.telegraph.co.uk/University of Toronto

VIVA.co.id – Asal usul manusia menjadi bahan hangat baru bagi ilmuwan dalam pekan ini. Sebab sebuah penelitian terbaru yang dirilis tim peneliti dari Jerman, Bulgaria, Yunani, Kanada, Prancis dan Australia, menunjukkan bukti manusia asal usulnya dari Mediterania Timur, Eropa. 

Hasil studi itu bisa dibilang mengguncang, sebab selama ini sebagian besar ilmuwan meyakini asal usul manusia berasal dari Benua Afrika. Dalam literatur, teori manusia berasal dari Benua Hitam itu dikenal dengan teori Out of Africa. Dalam teori itu, manusia mulai menyebar ke seluruh bagian dunia dari Afrika sekitar 200 ribu tahun lalu.

Temuan yang menyatakan nenek moyang manusia berasal dari Eropa diklaim berpeluang mengubah pemahaman asal usul manusia secara radikal. 

Studi yang menyimpulkan nenek moyang manusia berasal dari Benua Biru itu, dikutip dari Reuters, merupakan analisis fosil tulang rahang di Yunani dan fosil gigi di Bulgaria. Fosil yang diteliti ilmuwan merupakan fosil mahluk mirip kera, yang dinamai Graecopithecus freybergi.

Fosil tulang rahang beserta gigi sejatinya ditemukan di tentara Jerman di Athena yang sedang membangun bungker pada 1944. Saat itu fosil itu kondisinya buruk, dengan sebagian besar giginya terkelupas. Saat itu spesimen itu dianggap tak punya nilai sehingga tak begitu dihiraukan. Sedangkan fosil gigi ditemukan di Bulgaria selatan-tengah pada 2009. 

Setelah ditemukan, ilmuwan mengujinya dengan menggunakan cara canggih, termasuk dengan CT scan. Umur fosil itu ditentukan dengan mengukur karbon pada batuan sedimen yang ditemukan pada fosil tersebut. Hasilnya, fosil tulang rahang beserta gigi berusia sekitar 7,4 juta tahun, sedangkan fosil gigi di Bulgaria berusia 7,14 juta tahun.

Ilmuwan juga menemukan, karakteristik akar gigi pada fosil itu berbeda dengan simpanse dan nenek moyang makhluk itu, sehingga peneliti yakin Graecopithecus freybergi adalah bagian dari keturunan manusia awal atau dikenal hominin. Temuan fosil hominin ini mengalahkan 'rekor' hominin tertua selama ini, Sahelanthropus, yang hidup sekitar 6-7 juta tahun lalu di Chad, Afrika Tengah.

"Kami terkejut dengan hasil studi kami, karena sebelumnya nenek moyang manusia hanya berasal dari sub sahara Afrika," jelas mahasiswa doktoral Jochen Fuss yang terlibat dalam penelitian itu. 

Peneliti lain dalam tim tersebut juga terkesiap. Sebab dengan kesimpulan itu, maka teori utama nenek moyang manusia bisa usang. 

"Spesies kita kita berevolusi di Afrika, tapi garis keturunan mungkin tidak dari sana," jelas ahli paleoantropologi Universitas Tübingen, Jerman, Madelaine Böhme.

Selain dua peneliti itu, ahli paleoantropologi Universitas Toronto, Amerika Serikat, David Begun juga termasuk dalam tim tersebut.

Graecopithecus tergolong spesies yang misterius, sebab fosilnya sangat jarang. Ukuran nenek moyang manusia ini diperkirakan seukuran simpanse betina dan tinggal di lingkungan padang rumput kering, mirip savana Afrika pada masa kini. Maka tak heran teori Out of Africa bertahan lama sampai saat ini. 

Skeptis dan kontroversi

Namun keyakinan tim peneliti yang berkesimpulan asal usul manusia dari Eropa menuai kontroversi. Ilmuwan lain menyambutnya dengan skeptis, bahkan keraguan hasil studi itu meluas di berbagai kalangan ilmuwan yang terlibat dalam penelitian lapangan. 

Secara umum, ilmuwan yang mengkritik temuan itu menyangsikan kualitas riset. Penelitian tim tersebut dinilai tidak kuat untuk melemahkan konsensus Ouf Of Africa yang telah meluas diyakini ilmuwan, bahwa nenek moyang manusia berasal dari Afrika dan mulai keluar dari benua ini ke arah Utara. 

"Gagasan nenek moyang manusia yang pertama kali muncul dari Eropa sedikit dukungan," kata pakar paleoantropologi Richard Potts dalam keterangan melalui emailnya, dikutip CBSnews. 

Potts merupakan ilmuwan program asal usul manusia Smithsonian Institution. Dia tak terlibat dalam penelitian tim yang mengklaim asal usul manusia berasal dari Eropa. 

Potts menjelaskan, sedikit peneliti yang mendukung klaim asal manusia muncul yakni dari daerah cukup terpencil di Eropa Selatan. 

Dalam kritiknya, Potts menuding klaim peneliti bahwa pengurangan akar gigi taring pada fosil Graecopithecus freybergi, menjadi bukti jelas fosil itu sebagai nenek moyang awal, adalah tak kuat. 

Tim peneliti itu, kata Potts, tak punya cukup bukti kontekstual untuk menarik kesimpulan nyata dari akar gigi taring tunggal. Menurutnya, perlu sampel lainnya, untuk memperkuat klaim mereka, misalnya mahkota gigi taring.

"Jadi, hanya ada sedikit dasar (lemah) untuk menerima klaim luar biasa bahwa fosil berusia 7,2 juta tahun dari Yunani adalah nenek moyang manusia tertua yang diketahui," ujar Potts.

Dalam bantahannya, Potts menjelaskan, 'masa kejayaan' kera terjadi Eurasia pada 12 sampai 10 juta tahun lalu. Kelompok primata yang beragam ini bermigrasi ke area garis lintang rendah (Afrika dan Asia) untuk menghindari pendinginan suhu belahan utara serta perubahan musim yang lebih kuat. Dengan fakta itu, ujarnya, klaim nenek moyang meninggalkan Eropa menjadi 'sedikit dukungan'.  

"Saya menghargai analisis terperinci dari fosil rahang Graecopithecus freybergi, yang mana itu satu-satunya fosil dalam genus mahluk itu. Tapi menurut saya klaim peneliti dalam paper mereka melampaui bukti yang ada," jelas Potts.

Kritik juga dilontarkan dari mulut pakar paleontologi Institute of Human Origins, Arizona State University, Amerika Serikat, Jay Kelly. 

Senada dengan Potts, dikutip dari The Washington Post, dia mengatakan klaim asal usul manusia dari Eropa sedikit dukungan dari para ahli. Kelly menggugat kesimpulan tim peneliti bahwa akar gigi geraham depan yang menyatu menunjukkan adanya hubungan dengan hominin. Dia menjelaskan akar gigi geraham depan menyatu bukanlah fitur konstan pada fosil hominin yang berbeda. 

Kelly juga mengkritik, salah satu tim peneliti, David Begun berambisi memaksakan klaim nenek moyang manusia dari Eropa bermigrasi ke Afrika. 

"David Begun telah berulang kali mengusulkan agar kera Afrika, manusia yang muncul di Eropa kemudian gorilla, simpanse dan manusia muncul dari anggota awal (manusia) Eropa yang migrasi ke Afrika," jelasnya. 

Dalam emailnya, dia menegaskan, konsensus yang 'paling dekat' atas asal usul manusia yakni garis keturunan nenek manusia muncul dari Afrika atau teori besar Out of Africa. 

Deretan peneliti lain yang 'melawan' tim peneliti itu bertambah. Profesor antropologi Universitas New York, Amerika Serikat, Susan C Anton juga hanya yakin dengan teori Ouf of Africa. Sebab sepanjang bukti yang kuat menunjukkan semua hominin kemudian berakar dan ditemukan di Afrika. 

"Jadi penjelasan paling sederhana adalah ini adalah asal usul dari Afrika," ujar Susan.