Teror Eropa dan Utopia Perdamaian
- REUTERS/Neil Hall
Keinginan ISIS untuk terus mencari perhatian dan perjalanan panjang untuk melemahkan aksinya, bukan tidak mungkin bisa memperpanjang daftar korban kekejaman aksi terorisme. Dikutip dari laman The Religion of Peace, aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok ISIS sejak 10 hingga 16 Juni sudah tersebar di 15 negara. Aksi bom bunuh diri terjadi sebanyak delapan kali dan serangan lain 40 kali, dengan korban tewas 170 orang dan luka-luka 175 orang.
Selanjutnya, tak semua Muslim dukung ISIS>>>
Tak semua Muslim mendukung ISIS
Sebaran ISIS yang meluas, tak ayal mencemaskan seluruh warga dunia dan meningkatkan sentimen anti-Islam. Tak semua Muslim mendukung ISIS, bahkan juga sangat banyak yang tak sepaham.
Tapi saat ini, bisa jadi setiap orang merasa terancam. Karena, ISIS tak hanya melakukan aksi kekerasan di Eropa, tetapi juga di negara-negara Muslim. Indonesia, bahkan sempat kebagian.
Dua ledakan terjadi di Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur pada 24 Mei 2017. Tercatat lima korban tewas. Tiga di antaranya adalah polisi, sedangkan dua korban sipil adalah pelaku bom bunuh diri. Selang sehari, kelompok teroris ini mengklaim bertanggung jawab atas ledakan tersebut.
Sadar aksi ISIS mulai membahayakan nyawa, Muslim di berbagai negara mulai merapatkan barisan mengecam aksi-aksi teror. Aksi-aksi menolak Islam radikal terus menguat. Di Inggris, kelompok-kelompok Muslim melakukan aksi "Berbagi 1.000 Bunga" untuk merepresentasikan cinta.
Di Austria, ratusan Imam Muslim berkumpul dan menyatakan kutukan pada aksi-aksi ISIS. Sedangkan Muslim di Jerman, juga melakukan aksi long march damai.
Sejumlah aksi yang terus terjadi menunjukkan kegelisahan dan keinginan untuk hidup berdampingan dengan damai, tanpa kekerasan, dan teror. Setiap umat beragama mungkin perlu mengambil garis tegas, mana aksi kejahatan dan teror. Tak selamanya, semua aksi yang mengatasnamakan agama adalah kebaikan.
Rasanya, bukan sebuah utopia jika setiap umat yang taat pada agama, menginginkan terwujudnya kehidupan yang harmoni. Terorisme harus diperangi, tetapi berbeda keyakinan, seharusnya bisa saling menghormati. (asp)