Bunuh Diri di Ujung Kamera

Ilustrasi bunuh diri
Sumber :
  • VIVA.co.id/Andry Arifin

Fenomena bunuh diri belakangan makin meningkat. Menurut data baru National Center for Health Statistics, dalam periode 2007 sampai 2015, tingkat bunuh diri pada kaum hawa berusia 15 sampai 19 tahun meningkat dua kali lipat pada 2007 sampai 2015. 

Sebagai perbandingan tingkat bunuh diri 2015 pada remaja putra rentang usia yang sama lebih rendah dibanding pertengahan 1980-a dan 1990-an. Riset itu menemukan tingkat bunuh diri pada remaja putra meningkat 31 persen, dan tingkat peningkatan bunuh dirinya meningkat dua kali lipat. 

Data rincinya yaitu tingkat bunuh diri remaja putra mencapai 12 per 100 ribu populasi pada 1975, 18 per 100 ribu populasi pada 1990 dan kemudian menurun jadi 10,8 per 100 ribu populasi pada 2007 tapi meningkat kembali menjadi 14,2 per 100 ribu populasi pada 2015. 

Untuk tingkat bunuh diri remaja putri meningkat, dari 2,9 per 100 ribu populasi pada 1975, menjadi 3,7 per 100 ribu populasi, turun menjadi 2,4 per 100 ribu populasi pada 2007 dan makin meningkat menjadi 5,1 per 100 ribu populasi pada 2015. Data ini memang menawarkan angka bunuh diri remaja di Negeri Paman Sam, namun ada yang menarik dari perkembangan cara bunuh diri era mutakhir.

Menanggapi data tersebut, Associate Director for Science pada Divisi Perlindungan Kekerasan, US Centers for Disease Control and Prevention, Tom Simon menunjukkan, ada kecenderungan media sosial menjadi pilihan bagi orang yang frustrasi untuk ‘memamerkan’ bunuh diri mereka. Simon dengan tegas mengatakan, media sosial layaknya pisau, bisa dipakai untuk hal positif tapi juga sebaliknya. 

Simon menjelaskan, untuk kasus pada bunuh diri kaum remaja, umumnya terkait dengan perisakan di dunia maya (cyberbullying) dan paparan konten berbahaya. Akses atas hal tersebut rentan mengarahkan remaja untuk melukai diri. 

"Media sosial bisa membantu meningkatkan koneksi antara orang-orang, dan ini kesempatan untuk memperbaiki mitos bunuh diri dan membuat orang mengakses bahan dan sumber daya pencegahan (bunuh diri)," jelas Simon dikutip dari CNN. 

Sedangkan Asisten Profesor Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku Emory University School of Medicine/Grady Health System Amerika Serikat, Dorian A. Lamis, berteori, penggunaan media sosial dan perisakan dunia maya kemungkinan berdampak peningkatan bunuh diri pada remaja putri dibanding remaja putra.