Bunuh Diri di Ujung Kamera

Ilustrasi bunuh diri
Sumber :
  • VIVA.co.id/Andry Arifin

Untuk kasus bunuh diri pada remaja, Lamis berpendapat, pubersitas bisa saja mendorong remaja untuk berbuat hal nekat. Menurutnya perubahan psikososial dan fisik bisa membuat remaja putri rentan dengan depresi, kecemasan dan gangguan kejiwaan. 

Sedangkan Simon menyebut meningkatnya kasus bunuh diri itu bukan karena faktor tunggal. Ada banyak kemungkinan yang mendorong untuk bunuh diri misalnya riwayat penyalahgunaan obat, terpapar kekerasan, isolasi sosial, konflik hubungan, stigma dan minimnya dukungan orang sekitar. Selain itu, efek resesi global pada akhir 2000-an berkontribusi bagi meningkatnya stres di dalam keluarga yang akhirnya melahirkan kecemasan pada remaja. 

Sedangkan perspektif lain, dalam laporan kasus bunuh diri yang terkait dengan media sosial pada 2011 sampai 2013 di Tyneside Selatan, Inggris, menunjukkan kelompok usia yang terdampak dengan penggunaan media sosial dan bunuh diri ternyata lebih dari yang diperkirakan. 

Ulasan beberapa peneliti dalam jurnal JRSM Open menemukan bukti media sosial lebih dikaitkan dalam kasus korban bunuh diri dengan usia korban di atas 45 tahun.

Dalam riset berjudul Social Media and Suicide: A Public Health Perspective yang dimuat laman National Center for Biotechnology Information, memaparkan hasil riset secara khusus penularan perilaku bunuh diri melalui internet dan media sosial. Dari 719 responden berusia 14 sampai 24 tahun, 79 persen melaporkan terkena konten terkait bunuh diri melalui keluarga, teman, dan media tradisional, sedangkan 59 persen mengaku menemukan konten bunuh diri dari internet. 

Analisis kala itu juga menunjukkan tak ada hubungan antara situs jejaring sosial dengan ide bunuh diri. Namun korban menemukan ide bunuh diri dan kontennya dari forum daring 

Riset itu menemukan situs video sharing seperti YouTube juga dijadikan untuk menemukan ide bunuh diri. Sedangkan medium media sosial seperti ruang percakapan (chat room) dan forum diskusi daring juga menjadi celah bagi kelompok rentan untuk menampilkan keputusan bunuh diri. 

Secara khusus, interaksi melalui ruang diskusi daring itu mendorong teman sebaya dan mengikuti aksi bunuh diri. Interaksi intens dalam ruang percakapan daring dinilai juga bisa mengikis keraguan atau ketakutan untuk bunuh diri.