Herlina Christine Natalia Hakim

Kuala Tungkal, Jambi, 25 Desember 19563
s/d
Sekarang

Selama berkarir lebih dari 35 tahun dalam dunia sinema Indonesia, Christine Hakim tercatat sudah pernah meraih supremasi tertinggi dalam perfilman Indonesia yaitu 6 Piala Citra. Prestasi ini boleh dibilang belum disamai oleh aktris Indonesia lainnya hingga kini.

Christine Hakim tercatat juga sebagai orang Indonesia pertama yang pernah menjadi juri kehormatan Sélection officielle “Feature Films” dalam Festival Film Cannes 2002 bersama dengan sejumlah sineas lainnya seperti David Lynch, Sharon Stone, dan Michelle Yeoh. "Sukses ini berkat kerja sama semua tim dan profesionalisme," jelas Chritine Hakim, di Jakarta (11/2015)

Bernama lengkap Herlina Christine Natalia Hakim, sepanjang karirnya perempuan kelahiran Kuala Tungkal ini sudah membintangi puluhan film yang sebagian di antaranya merupakan film-film berkualitas festival yang menang di berbagai kompetisi film bergengsi di luar negeri. Sebut saja ada “Cinta Pertama”, “Ponirah Terpidana”, “Tjoet Nja’ Dhien”, hingga “Jamila dan Sang Presiden”.

Mengawali debut main film dalam “Cinta Pertama” yang diproduksi tahun 1973, film ini langsung mengganjar Christine Hakim dengan sebuah penghargaan sebagai “Pemeran Utama Wanita Terbaik” di ajang Festival Film Indonesia 1974 yang diselenggarakan di Surabaya.

Sejak itu karir Christine Hakim makin naik dengan membintangi sejumlah film selama setahun. Penampilan gemilangnya dalam “Sesuatu yang Indah” kembali membuat Christine Hakim diganjar penghargaan Piala Citra pada ajang Festival Film Indonesia 1977 di Jakarta.

Prestasi ini semakin bertambah saat Christine Hakim dinobatkan sebagai “Pemeran Utama Wanita Terbaik” pada ajang Festival Film Indonesia 1979 di Palembang untuk permainannya yang menyentuh sebagai sosok Sri di film “Pengemis dan Tukang Becak” (1978) yang naskahnya ditulis oleh Wim Umboh.

Tradisi memenangkan Piala Citra kembali ditorehkan oleh Christine Hakim sebagai “Pemeran Utama Wanita Terbaik” lewat film “Di Balik Kelambu” (1982) pada ajang penghargaan Festival Film Indonesia tahun 1983 yang diselenggarakan di Medan.

Daftar prestasi Christine Hakim makin memperkuat dirinya sebagai aktris terbaik saat gelar “Pemeran Utama Wanita Terbaik” juga jatuh ke tangannya untuk permainan acting yang mengesankan dalam “Kerikil-Kerikil Tajam” yang edar pada 1984 dimana film ini memberikannya Piala Citra untuk kelima kali.

Dalam film epik “Tjoet Nja' Dhien” yang rilis pada tahun 1988, Christine Hakim merebut gelar “Pemeran Utama Wanita Terbaik”. Sosoknya sebagai pahlawan wanita asal Aceh yang menentang kolonialisme dinilai banyak kalangan hampir mendekati tokoh aslinya.

Saat perfilman Indonesia sedang mati suri di era 90-an, tercatat Christine Hakim hanya bermain dalam empat film, yaitu “Sinyo Salam” (1993), “Nemuru Otoko” (1996), “Gordel Van Smaragd, De” (1997) serta “Daun di Atas Bantal” (1998) yang merupakan garapan sutradara Garin Nugroho. Kecuali “Daun di Atas Bantal”, ketiga film yang dimainkan Christine Hakim tidak sempat ditayangkan oleh bioskop lokal karena digarap oleh sineas luar negeri dan distribusinya dipegang rumah produksi bukan dari Indonesia. Sekedar catatan, “Daun Di Atas Bantal” sendiri pernah ditayangkan di ajang bergengsi Festival Film Cannes.

Di masa krisis mutu perfilman nasional pada era 90-an, Christine Hakim pun banting setir menjadi pemain sinetron. Sejumlah sinetron yang sempat dibintanginya memang bukan sinetron murahan, tercatat dia bermain di tiga judul sinetron yaitu; “Bukan Perempuan Biasa” arahan Jajang C. Noer, “Tiga Orang Perempuan”, serta “Anakku Terlahir Kembali”.

Ketika perfilman Indonesia mencoba bangkit kembali di era 2000-an awal, Christine Hakim langsung mengambil peran penting dalam film penuh pujian “Pasir Berbisik”. Dengan lawan main Dian Sastrowardoyo, aktris muda yang sedang naik daun ketika itu, film ini bertabur berbagai penghargaan di ajang festival film luar dan dalam negeri.

Di ajang Festival Film Indonesia pada 2004 setelah 12 tahun absen diselenggarakan, “Pasir Berbisik” mengantongi 8 nominasi penghargaan termasuk untuk kategori bergengsi “Film Terbaik” dan “Aktris Utama Terbaik”. Walaupun tidak meraih “Film Terbaik”, film ini adalah catatan kembalinya Christine Hakim dalam sinema Indonesia terkini yang didobrak sebagian sineas muda yang haus akan idealism berkarya.

Berturut-turut setelahnya Christine Hakim bermain dalam “Puteri Gunung Ledang” (2004), “Anak-Anak Borobudur” (2007), “In the Name of Love” (2008), “Jamila Dan Sang Presiden” (2009). “Merantau” (2009), Eat Pray Love (2010), “Rayya, Cahaya Di atas Cahaya” (2012), Sang Kiai (2013), “Retak Gading” (2014), “Pendekar Tongkat Emas” (2014), “Jejak Dedari” (2014), serta “Guru Bangsa: Tjokroaminoto” (2015).

Di luar aktivitasnya sebagai seorang aktris film senior, kehidupan pribadi Christine Hakim boleh dibilang cenderung bersih dari gosip, perkawinannya dengan Joroan Lezer juga aman-aman saja dari serbuan gosip. Bersama dengan Ferry Salim, Christine Hakim juga aktif berkecimpung dalam kegiatan sosial seperti menjadi duta UNICEF.

KELUARGA     
Kakak      : Mirna Hakim
Suami      : Edo Eduard Jeroen Lezer

 

FILMOGRAFI
Cinta Pertama (1973) (meraih Citra FFI 1974)
Atheis (1974)
Ranjang Pengantin (1974)
Bandung Lautan Api (1974)
Kawin Lari (1975)
Surat Undangan (1975)
Hapuslah Airmatamu (1975)
Badai Pasti Berlalu (1976)
Si Doel Anak Modern (1976)
Impian Perawan (1976)
Arwah Komersil Dalam Kampus (1977)
Sesuatu yang Indah (1977) (meraih Citra FFI 1977, Jakarta)
Petualang-Petualang (1977)
Pengemis dan Tukang Becak (1978) (meraih Citra FFI 1979, Palembang)
Dr. Siti Pertiwi Kembali ke Desa (1980)
Seputih Hatinya, Semerah Bibirnya (1982)
Di Balik Kelambu (1982) (meraih Citra FFI 1983, Medan)
Ponirah Terpidana (1984)
Kerikil-Kerikil Tajam (1984) (meraih Citra FFI 1985, Bandung)
Bila Saatnya Tiba (1985)
Irisan-Irisan Hati (1988)
Tjoet Nja' Dhien (1988) ((meraih Citra FFI)
Sinyo Salam (1993)
Nemuru Otoko (1996)
Gordel Van Smaragd, De (1997)
Daun di Atas Bantal (1998)
Pasir Berbisik (2001)
Puteri Gunung Ledang (2004)
Anak-Anak Borobudur (2007)
In the Name of Love (2008)
Jamila Dan Sang Presiden (2009)
Merantau (2009)
Fana : The Forbidden Love (2010)
Eat Pray Love (2010)
Rayya, Cahaya Di atas Cahaya (2012)
Sang Kiai (2013)
Retak Gading (2014)
Pendekar Tongkat Emas (2014)
Jejak Dedari (2014)
Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015)

SINETRON:
Bukan Perempuan Biasa
Tiga Orang Perempuan
Anakku Terlahir Kembali

IKLAN:
Lux (1979)
Calcimex (1997)
BRI (2009)

PENGHARGAAN / AWARDS:
Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik, dalam film Cinta Pertama (1977)
Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam film Sesuatu Yang Indah (1979)
Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam film Pengemis dan Tukang Becak (1978)
Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam film Kerikil-Kerikil Tajam (1984)
Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam film Di Balik Kelambu (1982)
Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam film Tjoet Nja' Dhien (1988)
Best Actrees pada Asia Pasific International Film Festival
Nominasi Piala Maya, Aktris Pemeran Pendukung (Rayya, Cahaya Di Atas Cahaya) (2012)
Nominasi Piala Maya, Aktris Pemeran Pendukung (Sang Kiai) (2013)
Nominasi Piala Maya, Aktris Peran Pendukung Terpilih (Pendekar Tongkat Emas) (2015)
Pemeran Pendukung Wanita Terbaik, Festival Film Indonesia (2015)


Berita Terkait

Christine Hakim Sembuh dari Tifus, Diminta Kurangi Syuting

21 September 2016

Christine Hakim

14 Juni 2016
Share :