Kutukan Istora bagi Tontowi/Liliyana Berlanjut

Ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.
Sumber :
  • badmintonindonesia.org

VIVA – Kutukan itu belum berakhir. Ungkapan itu tampaknya masih melekat bagi ganda campuran, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dalam menaklukkan mitos Istora Senayan.

Ungkapan ini menggambarkan situasi yang terjadi di final Daihatsu Indonesia Masters 2018. Owi/Butet yang merupakan unggulan utama, ditekuk duo China, Zheng Siwei/Huang Yaqiong dua game langsung, 14-21 dan 11-21.

Sejak awal, laga sudah diprediksi tidak akan berjalan mudah bagi juara dunia 2017 itu. Sampai pertarungan di jeda interval skor 10-11, Owi/Butet tertinggal. Namun performa mereka makin kendor sehingga tunduk 14-21 di game pertama.

Di game berikutnya, Zheng/Huang makin menaikkan tempo bermain. Dan kondisi ini gagal diantisipasi Owi/Butet yang berbuah petaka besar untuk mereka.

Permainan seakan dipegang sepenuhnya oleh Zheng/Huang dengan langsung unggul 11-8 dan merambat 15-8 sebelum menyudahi perlawanan Owi/Butet lewat skor 21-11.

"Saya merasa selalu tertinggal dari permainan ganda China ini. Mereka sangat cepat dan kuat untuk saling mengcover area lapangan. Ke depannya, kita akan mempelajari permainan cepat mereka," ujar Tontowi usai laga.

"Ya secara umur, secara kecepatan kita pasti kalah. Jadi kalau kita mau kalahkan mereka, harus terapkan strategi yang benar. Buangan bolanya, pikiran harus bersih, kalau nggak gitu kita banyak tertekan," ujar Liliyana.

Hasil ini pun memperpanjang rekor buruk Owi/Butet meraih prestasi di depan publik Istora setelah terakhir kalinya juara pada SEA Games 2011 di Jakarta lalu. (mus)