Mohammad Hatta

Mohammad Hatta
Sumber :
  • s88884372.onlinehome.us

Di bawah kepemimpinan Hatta, Persatuan Indonesia mengalami banyak perubahan, Mereka jauh lebih memperhatikan pergerakan di Indonesia melalui ulasan dan komentar yang rilis di media massa. Mohammad Hatta juga pernah berpidato inagurasi denga judul "Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan". Dalam pidatonya, Ia menganalisa struktur ekonomi dunia saat itu.

Hatta juga pernah memimpin Kongres Demokrasi Internasional untuk perdamaian di Berville, Perancis mewakili himpunannya pada tahun 1926. Sejak saat itu, nama Indonesia mulai dikenal oleh berbagai organisasi internasional. Setahun kemudian, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda. Di sanalah ia bertemu dengan Jawaharhal Nehru, aktivis nasionalis asal India. Keaktifannya di beberapa organisasi tersebut membuat studinya molor hingga tahun 1932.

Aktivitasnya ini pula yang membuat Hatta ditangkap Belanda bersama Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul madjid Djojodiningrat. Namun, akhirnya dibebaskan setelah Ia memberikan pidato pembelaan bertajuk “Indonesie Vrij.”

Pada tahun 1931, Hatta undur diri sebagai ketua Perhimpunan Indonesia karena ingin menyelesaikan studinya. Perhimpunan Indonesia pun jatuh ke tangan komunis dan berbalik menjadi mengecam Hatta sampai akhirnya Hatta dan rekannya Syahrir keluar dari partai.

Setelah kembali ke tanah air pada tahun 1932, Hatta bergabung dengan Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan untuk membuka mata masyarakat Indonesia tentang dunia politik dengan mengadakan berbagai pelatihan. Bisa dikatakan, himpunan ini merupakan tandingan dari Perhimpunan Indonesia.

Pengasingan Soekarno ke Flores di tahun berikutnya, menuai kritik keras Hatta. Di berbagai media massa, Beliau mulai menulis artikel tentang pengasingan. Hal ini membuat Belanda memusatkan perhatiannya pada Club Pendidikan Nasional Indonesia serta menangkap Hatta dan Syahrir sebagai pentolan perhimpunan tersebut kemudian ikut diasingkan ke Digul, Papua.

Bung Hatta tetap menulis di berbagai surat kabar saat diasingkan baik surat kabar Jakarta maupun Medan. Selain itu, ia juga rajin membaca buku yang dibawanya dari Batavia lalu mengajarkan kepada teman-temannya di sana.

Pada tahun 1937, Hatta dan Syahrir dipindahkan ke Banda Neira, Maluku. Sewaktu di Banda Neira, Ia bercocok tanam dan menulis di surat kabar Sin Tit Po dan Nationale Commantaren.