Abdurrahman Wahid

Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Sumber :
  • embunhikmah

Meski tergolong sukses, Gus Dur merasa masih kurang memenuhi kehidupannya sehingga ia mencari pekerjaan tambahan dengan menjual kacang dan mengantarkan es. Pada tahun 1974, ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Pesantren Tebuireng hingga tahun 1980. Ia juga pernah menjadi guru kitab di Al Hikam.

Beberapa tawaran untuk mengurus NU menghampirinya. Namun, Gus Dur menolak karena ia ingin menjadi intelektual politik. Sampai akhirnya sang kakek menawarkan posisi itu untuk ketiga kalinya dan Gus Dur pun mengiyakan. Hal tersebut membuat Gus Dur kembali menetap di ibukota.

Pada tahun 1980 Gus Dur menjabat sebagai Katib Awwal PBNU hingga tahun 1984. Ia naik jabatan sebagai Ketua Dewan Tanfidz PBNU. Ia juga mendapat pengalaman politik pertamanya karena berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada  pemilihan umum legislatif 1982. PPP sebuah partai Islam yang dibentuk dari gabungan 4 himpunan Islam termasuk NU. Kariernya bisa dibilang gemilang, setahun kemudian Gus Dur sukses menduduki kursi Ketua PBNU dan pada tahun 1989 akhirnya ia sukses duduk di kursi MPR-RI.

Memasuki Era Reformasi 1998, banyak partai baru bermunculan seperti Partai Amanat Nasional (PAN) bentukan Amien Rais dari tokoh Muhammadiyah. Pada waktu bersamaan,  banyak orang NU meminta Gus Dur membentuk partai politik baru dan dibentuklah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pada awal tahun berikutnya, PKB secara resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat untuk pemilihan presiden.

Tahun 1999, pemilu kembali dilaksanakan setelah Habibie turun dari kursi kepresidenan. Gus Dur terpilih sebagai presiden lewat sidang MPR RI. Gus Dur sebagai presiden dan Megawati Soekarnoputri sebaai wakilnya.

Sebagai seorang presiden, Gus Dur memiliki cara-cara yang berbeda untuk menyikapi suatu masalah. Ia melakukan pendekatan simpatik kepada GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan mengayomi etnis Tionghoa. Selain itu, Gus Dur meski sudah jadi presiden, dikenal suka melontarkan kalimat-kalimat kontroversial yang salah satunya adalah, “Anggota MPR/RI seperti anak TK.” Akibat  gaya dan sikapnya ini mengundang pro-kontra di masyarakat.

Akhirnya, Gus Dur hanya bertahan sebagai presiden selama 20 bulan. Lawan-lawan politiknya memanfaatkan kasus Bruneigate dan Bulloggate untuk melengserkannya. Hubungannya dengan TNI juga kurang baik. Gus Dur juga sempat mengeluarkan dekrit  bubarkan DPR.