Perawat, Politik, dan Pelayan yang Tak Terlayani

Ilustrasi perawat.
Sumber :

Hal ini diakibatkan oleh sistem pendidikan perawat yang menuntut perawat hanya sekadar menjadi pelayan yang tak terlayani. Lihat saja bagaimana kakunya sejumlah institusi keperawatan yang bahkan melarang mahasiswanya untuk berorganisasi. Belum lagi kurikulumnya yang hanya membahas soal melayani dan melayani. Sehingga tak heran jika seluruh generasi perawat yang diluluskan hanya bercita-cita bekerja di Rumah Sakit dengan status Pegawai Negeri Sipil.

Mereka tak diajarkan untuk melihat sisi lain yang akan mengangkat profesinya dari jurang ketertindasan dalam sistem pelayanan kesehatan ala Indonesia, dimana tuntutan besar gaji kecil. Bagaimana bisa negera menuntut banyak dari perawat berupa pelayanan yang ramah, dengan gaji yang rendah? Bagaimana mereka bisa memikirkan pelayanan yang ramah, jika kehidupan yang diberi negara padanya tak ramah?

Oleh sebab itu, sudah saatnya perawat mendidik generasinya melihat tuntutan yang ada, dirinya sendiri, dan apa yang negera tuntut darinya. Ingat, bahwa perawat juga manusia yang butuh sejahtera untuk bisa tersenyum ramah. Walaupun terkadang tidak sejahtera pun mereka masih bisa tersenyum ramah. Namun, di balik senyumnya itu, banyak beban kehidupan dari segi finansial.

Karena itulah, PPNI harus meramu kembali pola politik transaksional atau perdagangan politik yang selama ini mereka artikan untuk bisa dievaluasi kembali dengan diubah polanya. Yaitu perbaikan internal dengan mensolidkan perawat-perawat produk pendidikan individualis dan membangun kesadaran akan kepentingan profesi yang membutuhkan kerja kolektif. Serta ingatkan kepada mereka, bahwa perawat adalah profesi yang sering menjadi korban dari percaturan politik, Di mana lahirnya berbagai undang-undang ataupun peraturan-peraturan pemerintah.

PPNI juga harus turun tangan memperbaiki persoalan yang ada pada akar. Yaitu generasi perawat yang selama ini dicetak menjadi perawat individualis dan alergi politik, sembari tetap memacu kompetensi perawat untuk lebih baik guna menjalankan tugasnya. (Tulisan ini dikirim oleh Abd. Rasyid Tunny, Dosen STIKes Maluku Husada)