Always Believe

Ilustrasi
Sumber :
  • Pixabay

Selama mama saya dioperasi, saya lebih memilih menunggu di rumah. Saya enggak tenang, mondar-mandir, dan diselingi dengan berdoa. Saya tidak fokus mengerjakan apapun karena saya takut ada something trouble yang menimpa mama. Setelah lama menunggu, ponsel saya berdering. Yang menelepon ternyata adalah Ibu Pendeta dan dia mengabarkan kalau operasi berjalan lancar dan baik. Tak henti-hentinya dia juga bilang, "Puji Tuhan, Puji Tuhan."

Mendengar berita itu, saya langsung meluncur ke rumah sakit. Di sana sudah ada kakak, papa, keluarga dan beberapa jemaat dari gereja saya. Muka kakak saya enggak bisa diboongi, saya tahu banget kalau dia sedang panik tetapi berusaha untuk ditutupi. Menurut dokter, mama setidaknya harus stay 3 sampai 5 hari di rumah sakit sebelum bisa dibawa pulang.

Karena kakak saya ada pekerjaan yang benar-benar enggak bisa ditinggalkan dan harus pergi ke Bali hari itu juga, tugas jaga akhirnya dibagi antara saya dan papa. Satu yang saya suka dari menjaga mama di rumah sakit adalah tamu yang datang menjenguk silih berganti, dan setiap datang pasti membawa makanan yang enak-enak. Karena mama belum boleh makan yang aneh-aneh, jadi tugas buat ngabisin makanan adalah tugas saya.

Mama lebih banyak tidur dan belum boleh banyak bergerak karena masih terasa nyeri. Melihat wajah mama, ada sedikit penyesalan dari saya. Ah, terkadang saya lupa untuk ngebahagiain mama saya sendiri. Saya malah lebih sering berusaha ngebahagiain orang lain tapi terkadang lupa membuat mama bahagia.

Banyak sisi baik yang saya dapat selama menemani mama ketika sedang dirawat di rumah sakit. Salah satunya adalah hobi lama saya yaitu membaca buku. Dulu, sebelum saya sibuk seperti sekarang, kalau ada waktu senggang saya pasti membaca buku. Jelek-jelek begini, saya tuh hobinya membaca buku sastra loh, terutama Kahlil Gibran.

Kadang, kalau saya lagi jenuh baca buku, saya suka baca-baca sms lama saya. Saya adalah tipe orang yang suka menyimpan sms dan jarang banget saya hapus kecuali kalau enggak penting dan sudah terlalu lama. Dari sekian banyak sms, ada sms tanggal 29 Mei 2007 dari orang yang pernah sangat saya sayang, isinya singkat, "Do you believe in miracles?". Saya masih ingat banget balasan sms yang saya kirim saat itu, saya jawab, "Always believe."