Always Believe

Ilustrasi
Sumber :
  • Pixabay

Yes, seperti sekarang saya juga selalu percaya kalau mama bakalan sembuh seperti dahulu dan enggak perlu menjalani operasi lagi. Saya percaya semua akan baik-baik saja setelah ini. Saya perhatikan wajah mama yang lagi tidur. Ah, walaupun saya sering ngecewain mama, biar kita sering beda pendapat, sering adu argumen, dan masing-masing keras kepala, tetapi dari hati kecil saya yang paling dalam, seperti kalian semua tentunya, saya juga sayang banget sama mama saya. Apapun yang saya lakukan dan kerjakan pasti untuk kebaikkan beliau.

Melihat dia bahagia tentu itu adalah hal terbaik dalam hidup saya. Setelah seminggu lebih dirawat di rumah sakit, mama sudah diperbolehkan pulang. Menurut dokter yang memeriksa kondisi mama, kondisi dia sudah berangsur membaik dan tidak boleh terlalu capek. Sebelum pulang, suster cantik yang menjaga mama meminta mama untuk menulis testimonial di kertas tentang pelayanan di rumah sakit ini. Mama menyuruh saya yang menulis.

Saya tulis ucapan terima kasih untuk dokter dan suster yang sudah merawat. Saya juga menambahkan kalimat-kalimat penyemangat untuk orang yang masih sakit di sini, "Sesuatu yang baik datang bagi mereka yang percaya. Sesuatu yang lebih baik datang bagi mereka yang bersabar. Sesuatu yang terbaik pasti datang bagi mereka yang tidak pernah menyerah, karena Tuhan selalu punya hadiah untukmu. Sebuah cahaya untuk kegelapan. Sebuah rencana untuk hari esok. Sebuah jalan keluar untuk masalah dan sebuah kebahagiaan untuk kesedihan. Dan jangan lupa, Tuhan memberi pelangi di setiap tetesan air mata, alunan merdu di setiap helaan nafas, berkah di setiap cobaan dan jawaban indah di setiap doa. Cepat sembuh, tetap berdoa, and Always Believe." Sani and Family.

Beberapa hari setelah mama pulang dari rumah sakit, ponsel saya kembali berdering. Di saat mama menelepon, saya sedang ada di ujung Pulau Jawa untuk ikut event bersepeda. Keringat dingin langsung menetes di kepala saya. Saya takut mama kenapa-kenapa lagi. "Iya Ma," jawab saya ditelepon. "De, jangan lupa dimakan bakpaunya, kalau kelamaan nanti bau." Ah, ternyata mama sudah kembali seperti dulu. (Cerita ini dikirim oleh Stefanus Sani, Bandung)