Kritik dari Keluarga Jadi Peluangku untuk Meraih Kesuksesan

Ilustrasi memarahi anak.
Sumber :

VIVA.co.id – “Bangun pagi, mandi, cari kerja! Ini malah tidur, udah jam segini juga. Udah tontonan anak-anak kau tonton, pantas saja kau masih kayak anak-anak. Gak pernah bisa kau dewasa!” Bangun lalu mandi? Cari kerja? Tontonan anak-anak? Gak pernah bisa dewasa? Aku ingin tertawa, tertawa akan apa yang dikatakan oomku.

Semua orang yang ada di rumahku, tidak terkecuali satu pun, semuanya berpikir aku adalah orang yang selalu tidur, bangun, main, tidur, lalu tidur lagi. Istilah kasarnya “Dikau Nak enak-enak ae, usaha toh ndok-ndok” yang artinya “Kau mau yang enak-enak aja, usahalah nak-nak.” Mereka tidak tahu apa yang sudah aku perjuangkan, aku lakukan, dan yang aku alami.

Aku sakit? Mereka malah berpikir aku sedang berbohong. Aku berjuang untuk meraih mimpi, harapan dan cita-cita? Mereka malah berpikir aku sedang berfoya-foya, menghambur-hamburkan uang bersama teman-temanku. Aku menonton anime? Dibilang menonton kartun, padahal anime itu anime, kartun itu kartun. Terlebih lagi masih banyak mereka di luar sana yang sudah dewasa masih menonton anime.

Pagi itu aku sedang sakit, seperti biasa badanku tidak bisa diajak bekerjasama ke warnet untuk mengetik dan mengirim cerita yang nantinya akan dibaca oleh para pembaca di media sosial. Namun, aku memaksakannya, demi masa depanku. Kebahagiaan mereka, bukan kebahagiaanku, karena aku sayang kepada mereka. Aku tidak bisa berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang bersama teman-temanku. Mereka saja saat aku temui tidak ada. Seperti hantu yang terkadang ada, terkadang tidak ada. Seakan-akan mereka menjauhiku dan tidak mau berteman denganku.

Aku juga ingin bekerja, namun fisik ini tidak mau mendukungku agar langsung diterima untuk mendapat pekerjaan yang nantinya akan bisa menghasilkan uang dengan usaha dan keringat sendiri. Padahal aku pekerja keras, tapi syarat pekerjaan zaman sekarang itu sudah bertambah satu, yaitu fisik yang tampan, ganteng, cantik, cakep, dan keren.

Bukan hanya itu, terkadang ada juga yang fisiknya sudah sama seperti umurnya tapi masih juga menonton anime dan kartun. Dibilang kayak anak-anak dan tidak pernah dewasa karena tontonannya itu khusus anak-anak. Padahal dari anime-lah seseorang akan bisa mengambil suatu pelajaran yang bermanfaat, terkecuali anime dengan fanservice yang berlebihan.

Namun, semua bully-an itu aku jadikan sebuah usaha agar aku bisa menjadi sukses di masa depan. Bisa membuat mereka bangga akan kepintaranku mencari sebuah ide untuk dijadikan sebuah tulisan, walaupun itu tentang aib keluarga. Aku rasa dengan menceritakan aib keluarga, aku bisa sukses. Karena sudah cukup aku merasa tersiksa dengan semua ocehan dan kritikan dari mereka.

Aku searching di google, ternyata banyak dari mereka yang sukses berkat semua bully, kritikan, dan ocehan dari orang-orang terdekat mereka. Sangat, sangat, sangat banyak, namun tidak semuanya yang berakhir happy ending. Ada yang berakhir sad ending bahkan tragis ending.

Aku ingin perjuanganku ini berakhir happy ending, mereka (orangtua dan keluargaku) merasa sadar akan kesalahan mereka akan tanggapan mereka terhadapku. Aku ingin mereka sadar dengan apa yang telah mereka lakukan padaku, katakan padaku, hendakkan padaku, dan egoiskan padaku. Aku ingin mereka menyadari akan apa yang selama ini aku perjuangkan, aku ingin-inginkan, aku harap-harapkan, aku cita-citakan, dan aku juga ingin mendapat restu dari mereka agar aku bisa sukses di masa depan.

Aku berharap harapan yang aku harap-harapkan selama ini bukan hanya menjadi harapan yang tidak akan menjadi kenyataan. Aku ingin semua harapanku menjadi harapan yang benar-benar akan terwujud. Yah, semoga saja aku selalu diberi kemudahan dalam menulis dan memikirkan ide cerita yang tidak selalu menceritakan aib keluarga. (Tulisan ini dikirim oleh Ridho Adha Arie)