Ate Logo! Sampai Jumpa Lagi!

Ilustrasi
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Gereja saya sekarang sedang kedatangan seorang teman baru. Dia bernama Ely dan impor dari Timor Leste. Orangnya baik dan pendiam banget. Dia juga sudah fasih berbahasa Indonesia, dan statusnya sekarang adalah seorang mahasiswa di sebuah universitas di Bandung. Yang saya suka dari dia adalah orangnya sangat tepat waktu dan setiap ada kebaktian dia enggak pernah telat datang. Contohnya, setiap Sabtu ada Kebaktian Youth jam 5 sore dan beneran deh, jam 5 sore dia sudah sampai di gereja padahal pintu gereja masih ditutup karena banyak yang belum datang.

Sedikit tamparan buat saya yang selalu ngaret kalau datang ke gereja di hari Sabtu dan Minggu. Gara-gara Ely juga, saya jadi penasaran dengan Bahasa Portugis. Kalau lagi ngobrol, dia biasanya suka pakai kombinasi Bahasa Indonesia dan Portugis. Biar kelihatan keren, saya berniat belajar Bahasa Portugis di rumah. Rencananya adalah, ketika di suatu hari pas Kebaktian Youth, saya bakalan mengajak Ely ngobrol pakai Bahasa Portugis. Biar kerenan sedikit gitu di depan yang lain.

Hingga di suatu hari, ketika saya merasa sudah bisa beberapa kalimat dalam Bahasa Portugis, saya nekat mengajak ngobrol si Ely pakai Bahasa Portugis. "Boa tarde! Como vai voc?" (Selamat sore, apa kabar?) Ketika saya berbicara begitu, suasana mendadak jadi hening. Yang lain pasti bengong campur bingung saya bicara apa dan si Ely yang saya harap merespon sapaan saya mendadak diam juga. Saya ulangi lagi kalimat tadi, "Boa tarde! Como vai voc, Ely?" Sengaja saya sebut nama biar si Ely merespon saya. Tapi dia masih bengong sambil menatap saya dengan penuh keheranan.

Please, jawab dong atau minimal responlah. Saya sudah malu banget soalnya suasana mendadak jadi hening. Tidak ada yang mengerti dengan apa yang saya omongin. Atau jangan-jangan saya salah ngapalin kalimat? Daripada keadaan semakin awkward, akhirnya saya buka suara dan bicara pakai Bahasa Indonesia, "Ely, itu gue bilang selamat sore, apa kabar, pake bahasa loe. Loe kenapa malah diem aja?" Ely langsung ketawa cekikikan sambil nutupin muka.

Dan setelah ketawanya habis, dia baru bilang kalau saya ternyata salah ucap, jadi dia enggak ngerti apa yang saya bilang. Harusnya, di kalimat "Boa tarde! Como vai voc?" tersebut ada akhiran 'eu' saat pengucapan. Oh, begitu toh. Sial itu buku yang saya baca enggak kasih tahu sedetail itu. Setelah saya disorakkin oleh yang lain dan dikatain sok-sokan, akhirnya atas ide yang lain diputuskan tiap Youth hari Sabtu, kita harus belajar 4 kalimat dalam Bahasa Portugis setiap minggunya.

Sekarang, sudah berjalan sekitar 3 bulanan dan untuk bahasa sehari-hari dalam Bahasa Portugis saya sudah lumayan bisa. Untuk tahu bisa atau tidaknya, saya mau ngetes ke tetangga baru saya yang juga dari Timor Leste. Kebetulan di suatu hari, pas saya mau main, tetangga saya yang ibu-ibu sedang ngobrol sama mama di depan rumah saya. Setelah saya pamit ke mama mau pergi, saya salam ke ibu tersebut, "Bom dia! Prazer em conhec-lo." (Selamat pagi, senang berjumpa denganmu).

Dia diam sebentar, mungkin karena kaget disapa oleh saya. Jangankan dia, mama saya juga kaget dan pasti enggak mengerti saya ngomong apa. Mungkin dikiranya saya habis ngelem aibon kali jadi ngomongnya awur-awuran. "Obrigado. Qual o seu nome?" (Terima kasih, siapa namamu?) balas si ibu sambil tersenyum. "Meu nome Stefanus Sani. Ate logo!" (Namaku Stefanus Sani. Sampai jumpa lagi!).

Namun sialnya, gara-gara saya ajak ngobrol si ibu pakai Bahasa Portugis jadi setiap ketemu seluruh anggota keluarganya, saya pasti diajak ngomong pakai Bahasa Portugis. Kalau saya bisa jawab, ya saya jawab. Kalau enggak bisa, ya pakai cara lama. Saya bakal jawab "sim, sim" alias “iya, iya” atau "nao, nao" alias “tidak, tidak” sambil pasang muka senyum sok mengerti. Jadi, kapan kalian mau belajar bahasa asing? (Cerita ini dikirim oleh Stefanus Sani, Bandung)