Dua Kali Aku Pernah Hampir Mati dalam Hidup Ini
- REUTERS/Sharif Karim
Sebelum berangkat via bandara di Semarang, Ketua PWI Jateng menulis surat pengantar untuk bekalku yang menyatakan kalau aku adalah anggota PWI. Tiba di Jakarta, aku dibawa ke sebuah rumah megah. Di ruang tengah kulihat lukisan berukuran 1X2 meter, seorang Pati ABRI bintang tiga. Mereka yang membawaku menjelaskan nama, pangkat, dan jabatan dari Pati tersebut. “Dia adalah kawan HB yang selalu kau ganggu,” ujar salah seorang di antara mereka.
Detik itu aku sadar kalau aku telah diculik oleh oknum bersenjata. Menghapus rasa panik, aku keluarkan surat dari Ketua PWI Jateng. Membaca surat itu, empat orang tersebut kemudian berembuk. Aku diminta untuk duduk di ruang belakang. Aku tidak duduk, tapi menyelinap masuk ke lorong samping rumah dan tembus ke halaman depan. Aku hampiri pintu gerbang yang ternyata digembok. Tanpa pikir panjang, aku lompati gerbang setinggi hampir dua meter. Tiba di luar, dengan badan menggigil ketakutan, aku stop taksi dan meluncur ke Kantor Redaksi di Jalan Kebon Kacang.
Tiba di Kantor Redaksi, tampak pos satpam telah hancur yang ternyata semalam diobrak-abrik oknum bersenjata. Di kantor, tampak Alm. Syamsudin Lubis, Pimpinan Umum Selecta Grup, dan beberapa wartawan seperti Fauzie Amrullah. Mereka memelukku, dikiranya aku tak bakal muncul lagi selamanya. Sebelumnya, pagi itu redaksi menelepon ke rumahku. Jawab istriku, aku telah ke Jakarta bersama empat orang pria dengan flight pukul 05.00. Dari jawaban itu, redaksi tahu kalau aku diculik oknum bersenjata. Sebab malam sebelumnya, teman-teman oknum itu merusak kantor redaksi.
Radio Republik Indonesia (RRI) pagi itu pukul 08.00 secara sentral menyiarkan kasus penculikan atas diriku. Mendengar siaran itu, istriku kaget dan langsung melahirkan anak keduanya. Istriku melahirkan premature sebab usia kehamilannya baru delapan bulan. Untung anak perempuan yang dilahirkannya sehat wal afiat. Selanjutnya, aku diundang Alm. Suardi Tasrif, SH dan Alm. Manai Sophian, Dewan Kehormatan PWI Pusat. Aku dipujinya karena telah memegang teguh prinsip profesi kendati harus bertaruh nyawa.