Kisah Mang Yanto dan Kios Kecilnya

Mang Yanto di kios kecilnya di Cipete, Jakarta Selatan
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Namanya Mang Yanto. Saya kenal tak sengaja, awalnya hanya sekadar mampir untuk ngopi di kios kecil yang ditungguinya. Tapi dari acara ngopi itu, saya akhirnya menjadi kenal dekat. Bahkan setelah itu, hampir setiap hari saat berangkat atau ketika hendak pulang kerja saya mampir dulu ke kios sederhananya.

Kiosnya ada di bilangan Cipete. Tepatnya di Jalan Saidi III. Mang Yanto asal Kuningan. Sebuah kabupaten paling timur di Jawa Barat yang juga kabupaten tempat lahir saya. Mungkin karena berasal dari satu daerah, saya cepat dekat dengannya. Merasa satu kampung dan satu asal usul daerah.

Di kios kecil itu, Mang Yanto menggantung harapan, mengais rezeki di ibukota. Rokok, kopi, indomie dan lain-lain adalah barang yang dijualnya. Kiosnya sederhana sekali, bahkan bisa dikatakan kios darurat. Rangka kios dari kayu, dindingnya dari seng, pun atapnya. Ada satu ruang sempit dalam kios. Di ruang itulah Mang Yanto tinggal, dan tidur pun di sana. Ada satu buah rice cooker atau alat penanak nasi, satu termos plastik, dan tas berisi pakaian. Tas itu yang bila malam beralih fungsi menjadi bantal.

Lantai kiosnya dari kayu, dilapisi karpet plastik murahan. Sedikit ke atas, ada colokan listrik. Terdapat satu jendela yang berfungsi semacam etalase. Di depannya berjejer toples-toples plastik berisi permen, juga wadah berisi roti. Di ujung etelase, satu kaleng seng digantung. Isinya kerupuk putih. Di bawahya terdapat kotak berisikan tempat minuman. Isinya macam-macam, mulai dari teh botol, air mineral kemasan, dan minuman lain. Semua minuman itu ditampung dalam sebuah kotak plastik yang biasa dipakai untuk tempat minuman. Biar tetap dingin, biasanya dalam kotak plastik ditaruh es balok.

Kios Mang Yanto menempel dengan pagar sebuah rumah besar. Rumah besar itu disewa seorang bule asal Belanda yang sering dipanggilnya mister. Si mister akrab dengannya, maklum Mang Yanto yang suka bersihkan taman di rumah itu. Di seberang kios juga ada sebuah rumah besar yang dijadikan kantor sebuah rumah produksi. Di pinggir kios terdapat bangku panjang dari kayu. Bangku itulah yang sering menjadi tempat duduk orang-orang yang ngopi. Biasanya para sopir bajaj yang sering nongkrong dekat kios Mang Yanto.

Hari Minggu, 22 Mei 2016, pagi hari saya mampir ke kios Mang Yanto. Sayang kiosnya tutup dan pintu kios digembok. Dari Bang Roda, sopir bajaj yang biasa mangkal dekat kios didapat informasi kalau Mang Yanto sedang ke Rawamangun, menengok istrinya yang juga menjaga kios persis seperti kiosnya yang ada di Cipete. Ya, Mang Yanto dan istrinya punya dua kios. Satu di Cipete yang sering saya sambangi, dan satunya lagi di Rawamangun.

Kios di Cipete yang sering ditunggui Mang Yanto. Namun, Mang Yanto hanya dua bulan sekali menunggui kios. Dua bulan berikutnya giliran yang lain. Sistem aplusan, demikian nama sistem penungguan kios rokok tersebut. Penunggunya banyak berasal dari Kabupaten Kuningan. Pola aplusan sendiri sederhana saja.

Kios rokok biasanya dimiliki oleh dua orang. Modalnya disharing atau dibagi dua. Sistem tunggu kios tergantung kesepakatan. Bisa dua bulan sekali, bisa satu bulan sekali. Untuk kios Mang Yanto, sistem tunggu per dua bulan sekali. Jadi selama dua bulan itu, keuntungan milik Yanto. Nanti, jika waktu tunggu habis, Mang Yanto punya kewajiban merekap barang dan melengkapi semua barang dagangan seperti semula. Selanjutnya giliran tunggu penggantinya. Dengan pengganti Mang Yanto saya juga kenal dekat. Mang Maman namanya. Dia juga satu kampung dengan Mang Yanto, sama-sama asal Kuningan.

Minggu siang, saya kembali mampir. Ternyata Mang Yanto sudah ada di kiosnya. Dan, memang benar dia habis dari Rawamangun, menengok istrinya. Dia ke sana dengan menggowes sepeda, biar ngirit katanya. Padahal jarak dari Cipete ke Rawamangun menurut saya sangat jauh.

Siang itu Mang Yanto bersiap hendak makan siang. Lauknya sayur asem dan ikan teri, plus tempe dan sambal. Kata dia, istrinya yang masak. Dia sempat menawarkan saya. Tapi karena sudah makan, saya menolaknya. Saya hanya pesan kopi hitam.

Mang Yanto selalu membawa beras dari kampung. Beras dari hasil panen sawahnya. Ya, di kampung jika tak sedang kebagian berdagang, Mang Yanto menjadi petani. Bawa beras katanya biar ngirit. Jadi, tinggal beli lauknya dari warung Tegal.

Dari kios itu pula Mang Yanto bisa menyekolahkan anaknya, bahkan sampai perguruan tinggi. Kini anaknya sudah lulus. Bahkan beberapa waktu yang lalu, Mang Yanto mengatakan anaknya sudah bekerja. Katanya sudah bekerja di perusahaan milik Hary Tanoesoedibjo. Tapi dia tidak tahu bekerja di bagian apa. (Cerita ini dikirim oleh Langitrakeyan)