Kenanganku bersama Sepeda Tua

Ilustrasi sepeda.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Salah satu hobi saya adalah naik sepeda. Bagi saya, naik sepeda itu benar-benar menyenangkan. Selain sehat dan irit, olah raga ini menurut saya bisa bikin mata, hati, dan pikiran jadi jernih. Ya, jernih, apalagi kalau di jalan ketemu gadis-gadis yang kece, bener-bener bikin hati dan pikiran jadi jernih.

Selain itu, dengan naik sepeda benar-benar bisa menghemat perjalanan. Apalagi saya suka banget masuk ke gang-gang kecil untuk menghindari kemacetan di jam-jam pulang kantor. Kalau saya pulang sebelum jam 5 sore, saya pasti menyempatkan keliling jalan naik sepeda. Kalau sedang ada duit lebih, biasanya saya belikan mama roti di jalan. Sambil putar musik di Ipod, saya bersepeda menelusuri jalan sambil bernyanyi-nyanyi kecil.

Belum lama ini, saya berencana mau beli sepeda baru. Sebelumnya saya punya dua sepeda, satu sepeda Fixie, satu lagi sepeda Federal. Sepeda Fixie biasanya saya pakai buat jalan-jalan, sedangkan yang Federal saya pakai buat perjalanan jauh. Yang sudah pernah naik sepeda fixie pasti tahu susahnya naik sepeda ini.

Sepeda fixie berbeda dengan sepeda kebanyakkan. Selain tidak ada giginya, sepeda ini juga tidak punya rem tangan. Jadi, kalau kalian melihat orang lagi naik sepeda fixie sambil cengengesan sebenarnya itu kamuflase. Aslinya dia itu pasti ngos-ngosan karena ya itu, sepeda fixie tidak ada giginya. Jadi menurut saya, ya dobel capeknya.

Untuk sepeda Federal saya, sebenarnya itu tidak ada remnya, baik rem tangan maupun rem kaki. Memang sengaja seperti itu. Jadi ceritanya, sepeda itu dulu pernah rusak sampai sekarang sudah hampir 5 atau 6 tahun tidak pernah saya perbaiki. Dan jadilah seperti sekarang, sepeda yang tidak ada remnya.

Semuanya baik-baik saja sampai ayah saya tahu kalau sepeda yang biasa saya pakai itu tidak ada remnya. Langsung saya kena omel habis-habisan. "Bagaimana kalau nabrak? Bagaimana kalau ditabrak? dan bagaimana-bagaimana yang lainnya. Daripada diomelin terus, akhirnya saya berniat buat beli sepeda baru. Di luar tabungan rutin, setiap bulan saya selalu menyisihkan sedikit uang untuk kesenangan.

Awalnya saya mau beli Playstation 4, tapi karena saya dan kakak saya sering tidak ada di rumah, rasanya percuma kalau beli, tapi tidak ada yang main. Dibanding habis buat hal yang tidak berguna, akhirnya saya memutuskan buat beli sepeda baru saja. Saya bakal cari sepeda dengan tongkrongan yang yahud dan yang penting ada remnya biar enggak diomelin terus.

Ngomongin sedikit soal sepeda Federal saya. Sepeda ini sebenarnya bisa dibilang menjadi saksi bisu buat hari-hari yang saya lalui. Dari banyak cerita, ada cerita yang sampai sekarang masih saya ingat tentang sepeda ini. Sudah lama sih ceritanya.

Waktu masih SMP, salah satu pelajaran yang paling saya takuti adalah seni musik. Hidup saya sudah mulai enggak tenang kalau bakalan ada tes nyanyi secara individu di depan teman sekelas. Bukan apa-apa, saya itu paling tidak bisa nyanyi. Sudah enggak bisa nyanyi, terus harus nyanyi di depan kelas, lagunya harus pakai bahasa Inggris ditambah lagi harus pakai gerakan pula. Tes nyanyi individu + pakai gerakkan + lagu berbahasa Inggris = Harakiri bagi saya.

Saat itu, tes nyanyi bakal diadakan di hari Selasa pagi. Seminggu sebelumnya memang sudah diumumkan bakalan ada tes menyanyi. Dan selama seminggu itu, hidup saya benar-benar tidak tenang. Makan jadi tidak nafsu. Ayam goreng yang biasanya saya doyan, sama sekali tidak saya lirik. Kartun Ninja Hattori atau kartun P-Man yang tiap sore saya tonton, sama sekali enggak saya tonton. Saya stres mikirin tes menyanyi itu!

Saya mau nyanyi lagu apa coba? Nyanyi lagu Bahasa Indonesia saja enggak lulus, sekarang malah disuruh nyanyi lagu Bahasa Inggris. Mama dan kakak saya selama itu langsung memberi kursus kilat buat saya. Mama dan kakak saya suaranya lumayan yahud, tidak sehancur suara saya dan ayah saya. Kakak saya sampai beli buku "Teknik Menyanyi yang Baik dan Benar". Dia bilang, "Suaranya jangan ditahan, biarin mengalir saja De." Mengalir-mengalir. Sudah saya biarin mengalir, tetap saja hasilnya jelek.

Sial, akhirnya hari yang sangat saya takutkan itu datang juga. Saya pengen banget akting pura-pura sakit ke mama, tapi karena saya tidak pernah bisa bohong ke mama akhirnya saya batalin rencana itu. Biasanya saya diantar ayah ke sekolah atau kadang-kadang naik bus Damri, tergantung mood saja. Tapi khusus buat hari itu, saya lebih memilih naik sepeda. Rencana awalnya saya mau datang sengaja ditelat-telatin biar telat. Terus kalau telat kan disuruh pulang. Cerdas enggak tuh ide saya? Cerdas dong!

Jam masuk sekolah adalah 06.45. Saya sengaja mengulur-ulur waktu berangkat sampai jam 06.20. Waktu berangkat, mama sambil peluk dan cium saya bilang, "Ingat, jangan lihat teman, nyanyi dari hati." Benar-benar sebuah petuah bijak.

Sambil siul-siul, saya mulai mengayuh sepeda. Musibah itu datang, saat setengah perjalanan tiba-tiba ada motor penjual roti yang ngebut banget. Selain ngebut dia juga selap-selip motor lain, mungkin karena dia telat harus anterin roti. Saya yang tidak tau apa-apa, lagi santai mengayuh sepeda, tiba-tiba ditabrak dari arah belakang. Bunyinya kenceng banget. Yang saya ingat, saat itu saya terpelanting ke depan.

Waktu SMP saya itu gendut banget. Pipi tembem, paha besar, dan perut kayak bakso goreng. Dari perumpamaan itu, kalian bayangin saya terhempas ke udara. Benar-benar mirip basreng mau dicemplungin ke kuah bakso. Saya melayang di udara dan sedetik kemudian saya jatuh ke aspal. Saya malah berdoa, semoga saya pingsan, semoga saya pingsan! Pingsan biar saya tidak usah ke sekolah dan enggak usah ikut tes nyanyi. Tapi saya enggak pingsan. Sesaat saya jatuh, saya langsung meraba muka, takut muka mulus saya rusak karena gesekkan aspal.

Orang-orang langsung menghampiri saya. Saya periksa badan, muka, kaki, tangan, sama sekali tidak ada luka, lecet pun tidak. Keluhan saya cuma satu, pantat saya agak kram karena sedikit ketarik. Ada seorang bapak sok tahu yang bilang, "Ini pasti luka dalam. Bahaya ini, bahaya harus diperiksa. Umurnya tidak akan panjang nih anak". Mendengar begitu saya jadi keringat dingin juga, apa benar saya kena luka dalam? Yang saya tahu, orang yang kena luka dalam itu biasanya umurnya tidak akan panjang. Hey, saya masih berumur 14 tahun. Masih doyan nonton kartun, masih doyan koleksi mainan dari McDonalds, terus umur saya tidak akan panjang?

Tapi sepertinya bapak itu salah, soalnya saya merasa baik-baik saja. Napas masih teratur dan tidak ada keluhan selain dari pantat saya yang ketarik itu. Si tukang kue yang nabrak mukanya saya perhatikan jadi pucet juga. kalau bisa ngomong, muka dia tuh kayak mau bilang begini, "Aduh ngimpi apa gue semalem ya. Udah jualan roti lagi sepi eh gue malah nabrak anak biawak segala".

Setelah berunding, akhirnya si penabrak harus mengantar saya ke sekolah. SIM dan STNK dia dipegang saya dan saya berangkat naik taksi ke sekolah. Sepeda malang dititipi di pos satpam yang ada di sana. Kalau saya jahat, harusnya saya ancam tuh tukang roti, "Mas, mau diperpanjang masalahnya? Kalau enggak mau, Anda harus antar roti abon dan roti keju setiap pagi ke rumah saya ya!"

Sesampainya di sekolah, si tukang roti menemui guru saya. Sumpah ya, saya sebenarnya sudah tidak kenapa-kenapa. Sakitnya sudah tidak terasa sama sekali, tapi karena saya ingat kalau hari ini ada tes menyanyi jadi saya harus akting kalau saya sedang menahan kesakitan yang sangat. Saya pura-pura duduk di lantai sambil bersandar ke lemari. Muka saya menunjukkan rasa sakit yang sangat. Di sisi lain, terlihat guru saya sedang berbicara dengan si penabrak.

Saat itu yang ada di harapan saya adalah ibu guru akan menghampiri saya dan bilang, "Sani, kayaknya kamu istirahat dulu di ruang UKS ya, ibu tidak tega melihat kamu. Nanti ibu telepon orang tua kamu agar kamu dijemput." Semoga ya Tuhan.

Tidak berapa lama, ibu guru datang menghampiri saya. Mukanya tidak menunjukkan rasa iba. Apa mungkin dia tidak terpedaya dengan akting saya ya? Apa kualitas akting saya terlalu pas-pasan ya? Dia menghampiri saya sambil bilang, "Sani, kamu sekarang masuk kelas dulu. Nanti kalau kamu tidak kuat, kamu boleh izin istirahat ke ruang UKS." jelasnya. "Tapi Bu, kata orang-orang saya kena penyakit dalam akibat benturan tadi. Saya belum boleh banyak bergerak." kata saya beralibi, sambil menunjukkan muka iba. "Iya, tapi Ibu lihat kamu tidak apa-apa kok. Kamu masuk kelas dulu nanti kalau sudah tidak kuat kamu izin istirahat".

Sial, mana jam pertama saya itu adalah seni musik lagi. Sambil mengutuk dalam hati, saya masuk kelas. Saya ceritakan ke teman sekelas kalau saya baru kecelakaan dan parahnya ternyata tidak ada yang percaya kalau saya habis kecelakaan. Dan, endingnya seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, akhirnya saya dapat giliran tes menyanyi di depan kelas dan mendapat nilai yang "sangat bagus".

Sekarang saya sudah berada di depan toko sepeda. Sedang melihat-lihat sepeda yang mau saya beli. Harganya mahal-mahal, ada sepeda yang seharga kamera bahkan ada sepeda yang harganya lebih mahal dibanding motor saya. Rencana awalnya, saya mau beli sepeda yang harganya tengah-tengah, tidak mahal dan tidak murah, sesuai kondisi keuangan saya.

"Jadi mau yang ini?" kata seorang karyawan sambil menunjuk sepeda pilihan saya. "Hmmm, sebentar ya, Mas. Saya keluar dulu sebentar" kata saya ragu-ragu. Entah mengapa, sekarang saya malah ada perasaan ragu-ragu untuk beli sepeda itu. Saya duduk sebentar di depan toko sambil memandangi sepeda Federal saya. Terlalu banyak cerita dari sepeda ini, bahkan sangat banyak sekali.

Pikiran saya mulai melayang-layang hingga berhenti di banyak titik. Entah kenapa saya malah jadi teringat saat pertama kali bertemu mantan pacar saya. Iya ya, saat itu saya kan lagi naik sepeda ini sedangkan dia sedang menyebrang jalan untuk membantu ibunya berjualan di kantin sekolah.

Saya jadi senyum-senyum sendiri kalau ingat kejadian itu. Ah, sepertinya saya tidak jadi beli sepeda baru deh. Toh, sepeda ini juga masih oke,tinggal dibetulin sedikit remnya. Saya beranjak dari pelataran toko, memasang earphone di telinga, dan mulai mengayuh sepeda. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, waktunya saya untuk pulang. (Cerita ini dikirim oleh Stefanus Sani, Bandung)