Nestapa Wanita dalam Kesunyian

Ilustrasi
Sumber :
  • U-Report

Letusan senapan di barisan depan menghentakkan nadiku. Suasana jadi kocar-kacir. Letusan itu berkali-kali. Makin keras terdengar. Mereka yang di depan rumahku masih bingung, sebingung aku yang kehilangan Amman. Orang-orang dari barisan depan berlari ke sana-ke mari, sepertinya mereka menghindar dari peluru yang siap menembus jantung mereka. Peluru itu bukan dari wakil mereka. Peluru itu dari prajurit negara yang datang menghalau gerak mereka. Amman! Ke mana langkahmu membawa ringkih tubuh kecil di antara ribuan dewasa?

Letusan senapan dan jejak lari di mana-mana. Ada yang mencari perlindungan di sebagian rumah terdekat. Ada yang terus berlari. Ada yang bersembunyi di balik bangunan tua. Semua takut. Aku juga takut! Dalam galau dan bimbang beberapa pemuda menarikku masuk ke rumah. Tapi Amman? Ia sendirian di luar sana sedangkan dia belum tentu bersama anaka kami.

Sekilas sebelum tangan kasar menarikku paksa, mataku menangkap serdadu negara berbaris di depan mesin perang baja. Sudah berakhirkah sebuah kisah negeri kaya bagai kisah dalam dongeng ini? Rasanya nafasku berhenti. Biar peluru menembus jantungku, asalkan Amman aman di luar sana. Aku tidak mengingat dia, juga roti keju yang dia bawa pulang. Ribuan roti keju seperti ribuan orang di malam ini. Semua tidak berarti apa-apa sekarang dan sampai kapanpun, jika Amman tidak kembali!

Rasanya baru semenit lalu aku mendengar tawa Amman. Rasa senang mengunyah roti pemberian Nuh. Oh, Nuh yang malang. Yang benar saja? Kemelut ini datang begitu Nuh menghilang. Aku juga tidak sanggup membayangkan kepedihan Nuh menghadapi malam seperti sekarang. Aku terpaku. Beberapa pemuda masih berdebat soal benar dan salah. Saling menuding satu sama lain. Sementara dari kejauhan masih terdengar letusan peluru menembus kaki berlari, letusan pedih yang diakhiri teriakan melanglang kesakitan.

Leraian dari pemuda lain tidak mampu meredam amarah kedua pemuda itu. Aku histeris! “Apa artinya penguasa itu turun dari tahtanya jika suami dan anakku mati malam ini? Mereka tidak tahu apa-apa dan jadi korban kebengisan kalian!” Tidak ada yang menjawab. Kedua pemuda yang tadi bertengkar juga diam membisu. Desir pasir seperti menembus ulu hatiku, pasti sangat dingin. Amman mungkin lebih dingin, sendirian tanpa pelukanku!