Nestapa Wanita dalam Kesunyian

Ilustrasi
Sumber :
  • U-Report

Desir pasir terdengar keras di belakang rumah kami. Aku menidurkan Amman dengan dongeng Abu Nawas yang sudah sangat sering ia dengarkan. Dengkur Amman bersahutan bersama angin yang membawa pasir. Mungkin saja terbang mencari dia yang entah sedang berusaha mendapatkan sepotong roti keju atau sedang bergumul dengan teman-teman lamanya di suatu sudut kota malam ini. Aku tidak memedulikan keberadaan dia. Aku hanya ingin dia sadar anaknya mau melihat dia melambaikan roti keju sepulang nanti!

Amman tersentak bangun saat gaduh di luar merayap masuk ke dalam mimpi indahnya. Suara teriakan membuatku terkejut. Ada bunyi lain selain teriakan manusia. Kaleng dipukul. Lemparan batu ke atap rumah. Gedoran pintu. Bau amis karena sesuatu dibakar. Seakan suara pasir yang diterbangkan malam tenggelam begitu saja.

Aku menarik Amman dalam pelukan, tapi Amman menolak dan berlari ke pintu utama. Di antara gaduh dan suara lantang, aku masih bisa mendengar artikulasi mereka. Pintu berderit ditarik Amman, tertahan olehku yang tertegun. Di luar bukan hanya suara laki-laki yang terdengar membahana malam. Perempuan-perempuan juga seakan tidak peduli malam membawa mereka ke putra-putrinya. Memeluk hangat dengan seuntai cerita penghantar tidur sebelum esok meraih mimpi-mimpi mereka.

Suara mereka serentak, aku mendengar ada yang salah di malam ini. Negeri yang dulu damai sekarang jadi berang. Mereka bukan meminta dinaikkan gaji atau dibeirkan kerja yang pantas. Mereka meminta penguasa negeri ini, yang sudah menjamu negeri selama puluhan tahun itu, hengkang dari kekuasaannya. Apakah ada yang aku lewatkan dari negeri limpah ruah minyak bumi ini? Atau karena sebuah televisi hitam putih saja belum menyala di rumah kami, sampai aku tidak mengerti apa-apa malam ini!

Badanku menggigil. Apalagi menyadari Amman sudah tidak berdiri di tepi teras rumah kami. Apa mungkin Amman mencari dia di antara kerumun manusia ini? Mungkin juga Amman ikut meneriakkan teriakan yang tidak ia mengerti itu? Amman belum genap sepuluh tahun, dan tidak tahu-menahu tentang ini. “Amman! Ke mana kaki membawamu?”