Belajar dari Rasa Sakit Hati

Sakit Hati
Sumber :
  • U-Report

Lalu tubuh yang gemuk itu mudah disiasati dengan pola makan dan olah raga yang baik. Toh segalanya menjadi mudah ketika dilakukan dengan fokus pada tujuan dan target kita. Bukan fokus pada omongan miring yang justru membuat langkah lurus kita menjadi miring. Yakin bahwa setiap kemudahan terjadi karena kita mencari kemudahan itu dan tidak meratapi setiap kesulitan yang kita hadapi.

Sakit hati sesungguhnya bukan hal penting ketika kita sadar kita yang menciptakan dan memelihara rasa itu. Seorang pengamen yang mengamen dari satu rumah ke rumah yang lain bisa jadi sakit hati karena ia ditolak. Tapi memelihara sakit hati itu cuma akan membuatnya bergerak jadi pengamen dengan nasib yang sama seperti itu.

Saya pernah sakit hati dengan seorang pemulung yang menolak pemberian saya. Tapi sakit hati itu saya olah menjadi hal lain yang lebih menyehatkan. Pola pikir positif bahwa siapa tahu pemulung itu menolak karena ia punya harga diri dan bisa jadi hidupnya jauh lebih baik ketimbang saya. Bisa jadi juga karena ia terbiasa mendapatkan barang yang justru tidak layak pakai yang seharusnya masuk ke tong sampah sehingga pemberian itu hanya pengalihan dari tong sampah ke tempatnya.

Pola pikir bisa jadi seperti itu membuat akhirnya saya mengubah kalimat ketika memanggil pemulung untuk membagi barang. Ucapkan kata lebih sopan, iringi dengan kata maaf karena takut ia tersinggung, dan sampaikan terima kasih karena mereka jsutru yang membantu kita mengurangi barang tidak terpakai di rumah.

Peristiwa lainnya mengajarkan banyak hal. Sakit hati ketika anak-anak berucap tidak baik justru membuat saya sebagai orangtua mengambil jalan introspeksi. Hingga akhirnya tahu penyebab sebenarnya kenapa kata-kata tidak baik itu bisa ke luar dari mulut anak-anak.

Sakit hati sering terjadi karena kita berharap terlalu banyak. Dan yang kita terima tidak sesuai harapan. Sakit hati bisa juga karena kita menganggap diri kita terlalu tinggi, hingga tidak terima ketika direndahkan. Pilihan ada pada kita. Memelihara sakit hati atau mengolahnya menjadi prestasi. (Tulisan ini dikirim oleh Norah)