Curahan Hati Anak Haram
- Pixabay/unsplash
Panjang sekali perjalanan cemoohan yang ibu terima karena mereka. Selama itu pula mereka memandang ibu sebagai wanita tercela dan durjana. Kelakuan ibu dua puluh tahun lalu masih membekas di harimu yang semakin menua. Apalagi dengan hadirnya diriku yang menambah deretan panjang hujatan kata pahit dari mereka. Kampung kita sudah melatih masyarakatnya untuk menjelekkan hidup orang lain.
]Jika kukalkulasikan jumlah suara sumbang yang dialamatkan kepada dirimu, tentu saja sangat tidak memenuhi kalkulator hidup kita. Karena pandangan mereka yang sipit terhadap aura dalam dirimu. Ibu tidak pernah lagi terlibat interaksi verbal maupun nonverbal bersama mereka. Ibu bagaikan manusia tersakiti dengan ribuan penyakit dalam dirimu. Ibu hanya melahirkanku seorang, satu saja nyawa lahir dari rahimmu kala itu, jadilah ibu sebagai pesakitan tak terampuni di kampung kita.
Hidup ini tidak lagi bersahabat dengan kita, Bu! Barangkali, lingkungan kampung kita yang sempit tidak membuahkan pemikiran objektif. Terlebih, saat aturan agama diletakkan di tempat istimewa setiap hati manusia yang mengaku beriman. Ibu malah dirajam dengan kata-kata penuh nasihat seakan ibu tidak pernah berbuat kebajikan. Aku yang tahu kelakuan ibu, tiada pernah ibu meninggalkan perintah agama seperti tata cara sebenarnya.
Di waktu senja ibu ke masjid, akan pulang setelah menyelesaikan ibadah empat rakaat sebelum menutup malam. Di waktu fajar, ibu pun mengajakku ke masjid, membuka hari beraroma kebencian di kampung kita dengan ibadah dua rakaat. Hanya kita, dan beberapa nyawa lain terduduk di lantai dingin masjid kampung ini. Mereka yang mencela ibu, mereka yang merendahkan fisik dan batinku, bahkan tidak pernah mencium dinginnya lantai masjid menghadap Tuhan kita! Apakah Tuhan paham maksud hatiku, Ibu?
Kesalahanmu hanyalah karena telanjur bersentuhan nafsu dengan laki-laki itu yang bahkan namanya enggan kusebut mengingat tingkah laku dia terhadapmu. Biar dalam ajaran keyakinan kita aku dianggap durhaka kepada orang tua, bagiku, ibu satu-satunya orang tua yang kumiliki. Kuanggap saja ibu sebagai Siti Maryam, Ibu Isa, tidak bersuami namun memiliki anak keturunan.